Dilan : dia adalah Dilanku Tahun 1990


Title : Dilan: dia adalah Dilanku Tahun 1990

Author : Pidi Baiq

Rate : 4/5
Cinta itu indah. Jika bagimu tidak, mungkin kamu salah milih pasangan -Pidi Baiq (1972 - 2098)-

Dilan adalah novel komedi romantis, ditulis oleh Pidi Baiq yang sebelumnya telah menulis buku-buku lain seperti serial drunken (Drunken Molen, Drunken Monster, Drunken Mama, Drunken Marmut), Al-Asbun, at-twitter, dan Hanya Salju dan Pisau Batu. Dilan adalah perkenalan awal saya dengan Pidi Baiq, oleh karenanya sebelum membaca Dilan saya tidak punya ekspektasi apa-apa dengan isi buku ini. Rasanya seperti akan makan makanan yang belum pernah sama sekali saya makan.

Di halaman awal buku ini akan ditemukan dua puluh sketsa wajah para tokoh yang akan diceritakan, cukup menarik karena hal ini jarang ditemukan pada novel-novel lain. Kemudian dilanjutkan dengan perkenalan dengan tokoh aku dalam novel ini, namanya Milea.

Milea adalah anak pindahan dari Jakarta ke Bandung yang kemudian mempertemukannya dengan Dilan di sekolah yang sama. Tokoh Milea digambarkan sebagai gadis yang berparas cantik tanpa perlu banyak polesan, sedangkan Dilan adalah anak geng motor yang punya idealisme cukup matang untuk usia anak SMA. Sampai di sini sebenarnya cerita mereka sangat klise, gadis cantik, anak baru, belum banyak teman, ditaksir anak geng motor (girl loves bad boy), idealis, pintar, populer. Kalau novel Dilan berhenti di situ maka hanya akan menambah daftar panjang cerita klise teenlit-teenlit di dunia perbukuan.

Sesuai judulnya, kekuatan novel ini ada di tokoh Dilan. Penulis berhasil menciptakan karakter yang baru dan segar. Ia membuat karakter Dilan begitu nyata dengan keunikannya, dengan gaya bicaranya, dan dengan pemikiran-pemikirannya yang tidak biasa. Saya menikmati percakapan-percakapan Dilan dengan Milea. Dan novel ini sebenarnya berisi banyak sekali kalimat-kalimat langsung percakapan para tokohnya, beberapa menggunakan istilah-istilah Sunda yang langsung diterjemahkan oleh penulis. 

"Kuajak jalan jalan dulu, atau langsung kubalikin ke dealer?"
"Siapa?"
"Kamu."
"Heh? Emangnya aku kendaraan?"
"Ha ha ha ha."
"Malah ketawa lagi ...."
"Katanya perempuan gak suka ditanya," kata Dilan. "Kalau gitu, ya, udah, langsung kubawa jalan-jalan aja."
"Ke mana?"
"Jangan tahu," jawab Dilan. "... yang penting berdua sama kamu."
"He he he he," aku ketawa kecil. "Ini mau jalan apa enggak?"
"Mau, tapi kamu jangan meluk."
"Enggak."
"Kecuali kamu mau."
........ (206)

Konflik dalam novel ini sebenarnya pun sederhana, seperti Milea yang ternyata masih punya pacar di Jakarta di saat bersamaan dia sedang dekat dengan Dilan. Kemudian ada juga tokoh Kang Adi, mahasiswa ITB yang juga suka kepada Milea. Selain masalah percintaan penulis juga memunculkan konflik persahabatan, dengan hadirnya tokoh Anhar yang adalah teman geng motor Dilan. Lebih jauh lagi penulis juga menyampaikan pesan berkaitan dengan parenting, Pidi Baiq menghadirkan sosok Bunda (ibunya Dilan) yang cukup egaliter terhadap anak-anaknya. Bunda memilih bersahabat dengan pacar Dilan ketimbang melarang-larangnya yang mungkin malah akan membuat anaknya menjauh.

Pidi Baiq menuliskan semuanya dengan baik. Sebagai pembaca yang sudah bukan anak SMA novel ini dalam beberapa bagian kadang memunculkan perasaan geli mengingat mereka adalah anak SMA yang sedang kasmaran dan bicara cinta seolah itu adalah perihal hidup dan mati. Tapi sebagai mantan anak SMA saya memaklumi dan belajar banyak hal dari Dilan. 

SELAMAT ULANG TAHUN, MILEA.
INI HADIAH UNTUKMU, CUMA TTS.
TAPI SUDAH KUISI SEMUA.
AKU SAYANG KAMU
AKU TIDAK MAU KAMU PUSING
KARENA HARUS MENGISINYA.
DILAN! (72)

Dilan adalah perwujudan remaja laki-laki yang hampir pasti akan diidam-idamkan banyak perempuan karena kepribadiannya, khususnya remaja putri SMA. Diidam-idamkannya Dilan adalah bukti kerinduan para wanita pada sosok laki-laki yang jujur dan berani yang selama ini sudah jarang ditemukan. Tapi meniru Dilan pun tidak lantas membuat para lelaki diidam-idamkan banyak wanita, karena meniru-niru saja adalah bukti ketidakjujuran pada diri sendiri. 
Aku peluk Dilan dengan erat sekali. Memeluknya seperti kepada harta karun.
.......
Biar bagaimanapun dia adalah Dilan, Dilanku, ,milikku. Dan sudah, aku tidak minta apa-apa lagi! (328)

Comments

Popular posts from this blog

Masker Penutup Wajah (Face Mask Pattern and Tutorial)

Insiden Anjing di Tengah Malam yang Bikin Penasaran