Kitab Omong Kosong


Title : Kitab Omong Kosong
Author : Seno Gumira Ajidarma
Rate : 4/5

O dewa, dewa, jagad dewa batara, bagaimana mungkin aku harus merasakan semua penderitaan ini o dewa! Tubuh hancur, hati tersayat, kandungan terlantar, perut lapar tak tertahankan! Dewa, o dewa, siapa di antara kalian merasa begitu hebat sehingga bisa menentukan nasib manusia? Menentukan siapa yang bahagia dan siapa yang tidak bahagia! O dewa, betapa kuasa kalian membuat rancangan sejarah manusia, menentukan siapa yang menderita dan siapa yang tidak menderita, siapa kalah siapa menang, siapa jahat dan siapa mulia! Kekuasaan dari manakah itu o dewa, sehingga bisa menentukan jalan ceritaku yang berkepanjangan penuh derita berlarat-larat? Apa yang membuat kalian begitu berkuasa sehingga merasa begitu berhak untuk menentukan betapa hidupku harus menderita? Dewa o dewa! Betapa ingin aku menolak kekuasaanmu! Kamu tidak mempunyai hak untuk mengatur hidupku! meskipun tubuhku hancur, hatiku tersayat, dan perutku lapar, aku sendirilah yang telah memilih jalanku!

Itu adalah kutipan dari buku "Kitab Omong Kosong" yang dituturkan oleh Sinta yang tengah mengandung dan menderita di tengah hutan karena keraguan Rama akan kesetiaanya. Ya, memang, dari namanya sudah bisa diketahui kisah di buku ini tidak jauh-jauh dari kisah pewayangan. Hal itu bahkan bisa dilihat dengan jelas pada cover buku ini.

Tema pewayangan memang sudah sering diadaptasi menjadi cerita lain yang sama sekali baru maupun yang hanya dikisahkan ulang dengan lebih modern. Namun SGA di buku ini benar-benar mengisahkan cerita-cerita dari dunia pewayangan dengan sangat amat apik dan berbeda. Gaya bahasa yang digunakan SGA pun benar-benar gaya bahasa yang akan membuat pembacanya hanyut dalam cerita. Membaca "Kitab Omong Kosong" ini benar-benar seperti diajak bertualang ke zaman pewayangan sambil mendengarkan seorang pendongeng berkisah kepada kita.

Karena keindahan sejati tak bisa didengar, tak bisa dipandang, dan tak bisa dipegang (Hal. 110). 

Mengenai alur cerita, buku ini tidak akan membuat pembacanya merasa bosan. Kalau dicermati, seperti ada cerita di dalam cerita, namun keduanya tetap saling mengisi dan berkaitan satu sama lain. Cerita pertama adalah kisah tentang persembahan kuda oleh bala tentara Ayodya yang menebarkan bencana dimana-mana, di setiap negeri yang dilewatinya. Kisah persembahan kuda ini ternyata adalah suatu cerita yang dikisahkan oleh Walmiki sang juru cerita. Selain menjadi si juru cerita, Walmiki sendiri pun turut menjadi bagian dari cerita tersebut. Hingga suatu ketika para tokoh yang sebenarnya tidak disebutkan secara jelas oleh Walmiki ternyata mengalami nasib yang tidak mereka inginkan. Salah satu tokoh itu adalah Maneka yang kemudian mencari Walmiki agar bisa diubah nasibnya oleh sang juru cerita. 

hati manusia adalah labirin dalam kegelapan
tanpa akalnya siapa pun tak kan menemu jalan (Hal. 143)

Kemudian cerita masih berlanjut dengan kisah Maneka dan Satya yang secara tidak sengaja menjadi orang yang harus mencari kitab yang merupakan inti dari cerita ini, Kitab Omong Kosong. Kitab tersebut harus ditemukan karena peradaban manusia hancur akibat upacara persembahan kuda. Dengan ditemukannya kitab tersebut maka manusia tidak perlu memulai semuanya dari awal. Lantas, apa isi kitab tersebut sehingga harus ditemukan? 

Note: Kitab Omong Kosong karya Seno Gumira Ajidarma ini sebelumnya pernah dimuat sebagai cerita bersambung di Koran Tempo pada Senin, 2 April 2001 hingga Rabu, 10 Oktober 2001, dengan judul Rama-Sinta.
Buku-buku SGA seringnya berisi tentang pemikiran-pemikiran dasar manusia, sindiran-sindiran kepada hidup, dan ironi-ironi yang layak untuk kita renungkan. Tidak ada salahnya merenungi buku SGA yang satu ini. 



Comments

Popular posts from this blog

Masker Penutup Wajah (Face Mask Pattern and Tutorial)

Insiden Anjing di Tengah Malam yang Bikin Penasaran