Mengalami dan Menerima




Mungkin hampir semua orang punya daftar yang sama untuk hal-hal yang tidak pernah ingin dialami. Seperti perpisahan, misalnya. Kalau dianalogikan dengan konsep pertemuan, kita tidak berpisah dengan orang secara acak, kita berpisah dari seseorang dengan suatu maksud.

Bagi saya perpisahan adalah pengalaman yang lumayan baru, sekalipun entah kenapa diri saya di masa lalu seperti sudah tahu bahwa memang akan seperti ini. Ada semacam firasat.

Sejujurnya saya tidak pernah mengerti kemana tujuan perjalanan ini. Yang saya tahu cuma menjalani. Pun ketika saya sudah punya berbagai macam rencana, sematang apapun itu, pada akhirnya rencana-rencana tersebutlah yang menuntun saya ke mana seharusnya melangkah. Ketika rencana ternyata tidak berjalan semestinya, yang saya lakukan kemudian hanyalah membuat hipotesis macam-macam, menarik benang merah dari berbagai hal dan kejadian. Lalu tersesat sendiri mencari-cari ujungnya.

Sederet pertanyaan kemudian muncul dan sebagian besar didominasi oleh kata tanya mengapa. Pada prakteknya saya sebagai manusia hanya bisa menerka-nerka, menganalisis ini dan itu, lalu berujung pada kesimpulan utopis sekaligus abstrak, "sudah takdir" atau "memang sudah seharusnya begini" dan juga "sudah waktunya".

Semanis apapun bagian dari hidup yang pernah kita jalani pasti ada bagian yang dirancang untuk menjadi pahit, yang memang sebaiknya asam atau sedikit asin, dan ada juga bagian yang dibuat agak hambar. Kadang saking naifnya saya cuma bisa tau rasanya tanpa mengerti apa yang sedang saya rasakan. Karena memang terlalu rumit untuk didefinisikan. Karena memang dalam hidup ini ada hal-hal yang cuma bisa dirasakan tanpa bisa dijelaskan. Dan karena memang, mungkin begitulah cara kerjanya.

Tapi entah kenapa saya merasa di situlah seni menikmati hidup bisa ditemukan. Di titik yang belum pernah dipijak saya bisa belajar tentang pengalaman baru bahwa hidup bisa semembingungkan ini. Terkadang saya merasa ini mungkin belum seberapa, masih banyak yang beginian di depan sana. Siap atau tidak, tidak ada yang tau dan tidak ada yang peduli. Toh pada akhirnya diri ini justru menjadi siap dengan mengalami sendiri dan hati ini pun sudah terbiasa otodidak.

Kita mungkin bisa belajar dari pengalaman orang lain, tapi dari sudut pandang "aku", orang lain adalah objek. Kita bisa mengamati dan belajar, tapi kita perlu jadi subjek untuk tahu bagaimana rasanya, untuk mengerti seperti apa menjadi darah dan daging yang berdesir dan berdegup karenanya. Saya menyebutnya sebagai kesempatan untuk mengalami, dan hidup menawarkan kesempatan ini setiap hari, selama paru-paru kita masih bisa mengembang dan mengempis.

Pada awalnya memang semua terasa asing. Seperti diri saya tertinggal di masa lalu dan sekarang harus hidup dengan duplikasi dari saya yang sebelumnya. Tiba-tiba seperti ada satu fungsi yang muncul di otak dan bertugas untuk mengingatkan bahwa saya yang dulu sudah tidak mungkin kembali ke masa kini, dan saya harus menerima itu. Saya nggak munafik bahwa saya berjuang mati-matian melawan keterasingan ini dan gerah dengan wadah yang baru.

Perlahan saya sadar bahwa saya tidak akan mampu. Melawan ternyata hanya menambah beban. Saya tahu ini sulit, tapi ini adalah bagian dari paket kehidupan yang harus saya lalui.

Hingga pada akhirnya saya mengerti bahwa yang dibutuhkan hanyalah penerimaan. Diri ini butuh diterima bahwa memang begini rasanya sedih, bahwa memang begini rasanya sakit, dan bahwa memang begini rasanya kecewa. Tugas saya adalah untuk mengamati dan menuntun perasaan ini sampai ke tepian. Sampai pada batas ia bisa dengan sendirinya tahu bahwa disitulah garis batas kesedihan, kesakitan dan kekecewaannya. Barulah kemudian siap untuk memulai kembali.

Semoga tidak lama-lama ya. 

*Sebuah catatan di malam hujan di kota kembang

Comments

Popular posts from this blog

Masker Penutup Wajah (Face Mask Pattern and Tutorial)

Insiden Anjing di Tengah Malam yang Bikin Penasaran

Dilan : dia adalah Dilanku Tahun 1990