My Skincare Journey (Bagian 1)



Postingan kali ini sedikit berbeda karena saya akan menceritakan pengalaman baru dalam dunia skincare. Tapi mungkin tidak akan seperti postingan para beauty blogger. Pertama, karena saya bukan beauty blogger dan belum ada niat untuk menjadi salah satu dari mereka. Kedua, apa yang saya alami ini mungkin tidak dialami oleh semua orang, tapi saya harap bisa bermanfaat bagi yang sama-sama mengalami maupun yang tidak (atau belum).


Beberapa bulan yang lalu saya mengalami alergi parah di kulit wajah. Awalnya hanya jerawat-jerawat biasa yang saya pikir muncul karena faktor hormonal. Sampai suatu hari alergi bertambah menjadi bruntusan yang sangat banyak, bahkan sampai ke kelopak mata.


Saat itu saya adalah konsumen aktif produk perawatan dari sebuah klinik kecantikan. Karena alergi yang sampai ke kelopak mata tersebut maka pertimbangan penyebab alergi bukan karena krim perawatan yang saya pakai melainkan karena faktor makanan. Kebetulan beberapa hari sebelumnya saya makan cumi. Setelah mencari beberapa informasi, ada artikel yang menyebutkan kemungkinan bahwa orang yang sebelumnya tidak alergi terhadap makanan tertentu bisa menjadi alergi di kemudian hari. Alasannya bisa karena kondisi tubuh yang sedang tidak fit atau perbedaan kadar alergen yang terkandung di dalamnya.


Meskipun demikian setelah alergi tersebut muncul, semua produk perawatan saya hentikan pemakaiannya. Awalnya saya memilih untuk menyembuhkan alergi dengan cara membiarkan sembuh dengan sendirinya. Namun setelah menimbang-nimbang berbagai hal, termasuk yang paling penting adalah budget, diputuskan untuk memeriksakan ke dokter spesialis kulit dan kelamin.


Kenapa saya tidak ke dokter di klinik kecantikan tempat saya biasa melakukan perawatan? Pertama, waktu itu dokter yang biasa menangani saya sedang cuti menikah dan harus menunggu sekitar satu minggu sampai dia praktek lagi. Kedua, seandainya alergi ini disebabkan oleh krim perawatan yang selama ini saya pakai -yang adalah resep dari dokter tersebut- maka itu akan menjadi kunjungan yang sia-sia. Ini sama seperti kamu nyari solusi ke orang yang bikin kamu jadi bermasalah.


Setelah melakukan riset instan alias googling, diperoleh satu nama dokter yang buka praktek di rumah sakit Borromeus. Dokternya baik dan cantik, pelayanan dari rumah sakitnya juga bagus, dan poli kulit kelamin dengan gedung barunya sangat nyaman.



Kira-kira seperti ini percakapan saya dengan beliau waktu itu:



Dokter : “Assalamu’alaikum, ada keluhan apa mbak?”


S : *Lumayan kaget karena di rumah sakit biasa pun jarang disapa pake assalamu’alaikum* “Wa’alaikumsalam.....” (kemudian saya cerita).


Dokter : “Iya, itu karena alergi krim-krim racikan. Perawatannya di klinik apa?” *sambil nulis-nulis*


S : “Di *piiiiiip* dok. Ini bruntusannya sampai ke kelopak mata dok, kan saya nggak pakai krim sampai ke kelopak mata. Beberapa hari sebelumnya saya makan cumi, apa bukan karena alergi cumi ya dok? Tapi saya memang sebelumnya nggak ada alergi sama cumi sih dok.”


Dokter : *ketawa renyah tapi masih tetep cantik* "Bukan, kalo alergi makanan dia bruntusannya besar-besar." *masih sambil nulis-nulis* "Kelopak mata itu salah satu bagian yang lemah dan rentan, jadi meskipun pemakaian krimnya tidak sampai situ tapi bagian yang lemah atau rentan juga terkena efeknya.”


S : “Tapi saya udah pake krim itu setahunan lho dok, bisa ya alerginya baru muncul sekarang?”


Dokter : ”Bisa. Ada yang namanya allergi contact dermatitis, jadi zat nya menumpuk dulu di kulit, baru setelah beberapa lama dia menyebabkan alergi. Tergantung dengan kondisi kulit juga.” <-- kira-kira ngomongnya begitu.



Ada dua salep, dua obat minum, dan satu facial wash yang diresepkan oleh dokter dengan total biaya kurang lebih 350ribuan. Seminggu setelahnya saya disarankan untuk datang lagi. Sepulang dari rumah sakit saya mencari informasi tentang allergi contact dermatitis. Kebanyakan informasi berasal dari luar negeri alias pakai bahasa inggris. Itu pun tidak semuanya sesuai seratus persen sama dengan kondisi yang saya alami.


Seminggu kemudian saya datang lagi. Waktu itu ngantrinya tidak selama saat kunjungan pertama. Kemudian ada satu hal yang menurut saya sangat esensial untuk ditanyakan kepada seseorang yang ahli dalam bidang perkulitan. Dan inilah pertanyaan saya: "Dok, jadi kalau ngerawat kulit buat sehari-hari yang aman pake apa ya dok bagusnya?" Titah beliau sebagai seorang ahli medis adalah: "Nanti saya kasih krimnya, sekarang disembuhin dulu kulit wajahnya".


Oke. Di momen tersebut jika diibaratkan sedang naik kereta dengan tujuan tertentu saya memutuskan untuk turun di stasiun pemberhentian terdekat dan sambil dadah-dadah tersenyum getir sekaligus iba. Awalnya saya merasa ini cuma masalah logika berpikir rasional, tapi semakin ke sini saya merasa ini adalah sebuah jalan hidup, suatu pilihan yang menimbulkan konsekuensi-konsekuensi yang harus siap saya terima. *mulai sentimentil*


Pernyataan dokter untuk memberikan pelayanan berupa penyediaan krim perawatan bagi pasiennya adalah satu hal, dan pilihan saya untuk tidak lagi menjadi konsumen dari krim-krim tersebut adalah hal lain lagi. Bukan salah dokter meracik krim demi estetika kulit pasiennya, pun bukan salah dokter jika saya merasa kurang sreg untuk memulai lagi perjalanan krim-kriman itu. Saya tidak meragukan keahlian dokter dalam menyembuhkan dan merawat kulit nantinya, saya cuma merasa "ini bukan jalannya".


Dari kunjungan kedua ke rumah sakit saya kembali diberi obat-obatan berupa satu vitamin kulit, satu toner racikan dokter yang salah satu komposisinya adalah alkohol 70%, dan satu krim anti iritasi yang juga diracik oleh dokternya. Total biaya kunjungan kedua kurang lebih 300 ribuan.


Sejujurnya, saya tidak langsung seidealis tadi saat baru melakukan kunjungan kedua. Tapi sudah ada perasaan bahwa saat itu kalau waktu bisa diputar kembali mungkin saya akan memilih untuk tidak melakukan perawatan di klinik kecantikan yang menyebabkan saya alergi. Kemudian sekarang ada satu gerbang lagi terbuka untuk kesempatan yang sama, untuk tujuan yang sama, dengan cara yang hampir sama. Ada peluang bahwa melakukan perawatan dengan krim dokter yang kali ini bisa menyembuhkan kondisi kulit saya waktu itu. Pun sebaliknya, ada juga peluang untuk saya menyesal di kemudian hari dan berharap saya tidak memakai krim-krim racikan lagi.


Beruntunglah saya memiliki teman-teman yang waktu itu sudah lebih dulu menyadari hal yang kebenarannya sudah nyata, hanya saja perlu tamparan keras untuk saya sampai pada pemahaman itu. Pemahaman bahwa hampir semua produk perawatan kulit yang ada di muka bumi ini, di-mu-ka-bu-mi-i-ni, mengandung bahan-bahan berbahaya. Sebenarnya tidak hanya produk perawatan kulit saja, tapi juga sampo, deodoran, dan yang jelas ya krim-krim perawatan untuk wajah itu tadi.


Teman-teman tadi, Yoke dan Rizky (halo Riz, Yok),  yang tidak bisa saya jabarkan riwayat hidupnya satu-satu di sini, adalah salah satu yang turut menguatkan saya untuk tidak kembali lagi pada krim-krim dengan kandungan yang bahkan saya nggak tau cara pengucapannya.



------------> Bersambung ke bagian ke-2............



Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Masker Penutup Wajah (Face Mask Pattern and Tutorial)

Insiden Anjing di Tengah Malam yang Bikin Penasaran

Dilan : dia adalah Dilanku Tahun 1990