[Review] The Life-Changing Magic of Tidying Up : Belajar Beres-beres dari Marie Kondo



Judul : The Life-Changing Magic of Tidying Up
Penulis : Marie Kondo
Penerbit : Bentang
  
Saya setuju kalau orang harus diajari cara beres-beres, karena selama ini saya beres-beres dengan cara yang salah. Saya sering beres-beres dan itu semakin membuat saya ngerasa kalau saya ini orang yang nggak rapi, nggak bisa rapi, atau memang dari sananya nggak punya bakat rapi. Bahkan saya sering ngelarang orang mau main ke kosan karena kamar saya selalu berantakan. Setelah nemu dan baca buku ini saya sadar saya cuma belum tau caranya.

Sesi beres-beres saya yang bisa memakan waktu seharian cuma mempertahankan kerapian kamar selama paling awet dua hari. Setelah itu kembali lagi seperti semula dan saya jadi beres-beres lagi, berantakan lagi, beres-beres lagi, berantakan lagi. Kadang saya kapok dengan siklus ini dan akhirnya ngebiarin kamar berantakan gitu aja sekaligus yakin saya nggak bakat rapi. 
Enggak. Bakat. Rapi.

Isi buku

Saya sukaaaaaa banget sama buku ini, tapi gimana ceritanya ya. Hmmm,…bentar-bentar. Oke. Jadi gini, selama ini saya nggak sadar kalau ternyata saya hidup dikelilingi oleh barang-barang yang ternyata nggak perlu, nggak perlu-perlu amat, dan nggak bikin saya bahagia. 
Sejak kapan punya barang harus bikin kita bahagia? 

Nah itu, buku ini ngajarin gimana caranya untuk hidup lebih seimbang, dengan cara memiliki barang-barang yang memang membuat kita bahagia.
“Pada dasarnya, berbenah semestinya adalah sebuah kegiatan untuk memulihkan keseimbangan antara orang-orang, barang milik mereka, dan rumah mereka.”
Selain itu buku ini juga mengajari saya untuk menerima kekurangan atau kecerobohan di masa lalu yang selama ini bukannya saya hadapi malah saya hindari. Gini contohnya, saya punya beberapa baju yang nggak tau kenapa saya nggak mau pakai. Ada juga baju atau rok yang bikin saya ngerasa sedih karena nggak suka padahal waktu itu saya beli (baju olshop biasanya). Atau sweater yang ternyata tangannya kependekan jadi aneh kalau dipakai. Atau jilbab dengan berbagai macam warna yang sudah dua tahunan nggak dipakai. Atau ada juga baju yang begitu dilihat di dalam benak saya langsung muncul “ini akan dipakai entah kapan pokoknya simpen aja dulu”. Semua baju itu menumpuk di lemari untuk disimpan dan bukannya dipakai.
“Proses itu memaksa kita untuk secara jujur menghadapi ketidaksempurnaan diri kita, kekurangan kita, dan pilihan bodoh kita pada masa lalu.”

Kesalahan-kesalahan selama ini 

Kesalahan beres-beres yang selama ini saya lakukan adalah saya memilih barang mana yang akan dibuang. Pada metode Kon Mari kita diajarkan untuk memilih barang-barang yang akan disimpan. Untuk memutuskan mana barang yang akan disimpan kita harus menyentuh dan memegang barang tersebut satu per satu dan merasakan apakah barang tersebut membuat kita bahagia atau tidak. Awalnya saya juga ngerasa “orang ini aneh banget” tapi setelah mencobanya sendiri ternyata proses tersebut berjalan alami dan saya dengan sendirinya tahu mana barang yang benar-benar membuat bahagia dan mana yang tidak.
“Kita semestinya memilih apa yang hendak kita simpan, bukan apa yang hendak kita singkirkan”
Ada yang kedengarannya lebih aneh lagi. Menurut Kon Mari, untuk barang-barang yang akan disingkirkan kita harus mengucapkan terima kasih atas jasanya selama ini. Buku ini memang lumayan banyak banyolannya. Saya sering ngakak karena mbak Marie ini memang rada aneh.

Tapi setelah dipikir-pikir nggak ada salahnya. Barang-barang yang udah nggak membuat saya bahagia nyatanya memang pernah membuat saya bahagia sekali waktu, yaitu pada saat saya ingin membelinya. Bener kan, nggak ada salahnya ngucapin terima kasih sama rok yang dulu menggiurkan banget pas liat di ol shop. Iya kan? Ngga papa kan? Nggak aneh kan?
“Piawai menyimpan sama saja dengan menimbun”
Kesalahan beres-beres berikutnya adalah saya beres-beres berdasarkan tempat. Padahal cara yang efektif adalah beres-beres sesuai kategori barang dengan urutan baju, buku, kertas, komono (pernak-pernik), dan barang-barang bernilai sentimental. Kegiatan beres-beres ini harus dilakukan semua dan sekaligus. Maksudnya adalah mengumpulkan semua barang dengan kategori tersebut, se-mu-a-nya dalam satu tempat kemudian baru memilah-milah. Lakukan sesuai urutan. Bereskan semua baju dulu, setelah beres baru beralih ke buku, dst.

Jujur, prosesnya memang nggak gampang, tapi hasilnya nggak akan bikin kecewa.
  
Pemahaman baru 

Pernah di suatu mall saya ngomentarin temen yang mau beli kaos obralan buat dijadiin baju rumah atau baju tidur yang kira-kira begini “ih ngapain beli baju buat tidur, baju tidur mah dari baju yang udah jelek aja”.

Sekarang saya pengen teriak ngutuk diri kalo inget itu karena itu adalah pemahaman sangat sesat yang pernah saya anut dalam hidup.
“Hentikan mengalihfungsikan pakaian yang tidak menggugah hati Anda menjadi baju rumah”
Setelah memilah-milah baju sampai selesai barulah saya sadar bahwa baju tidur yang saya pertahankan hanya tersisa enam potong atasan, dan empat potong bawahan. Semua baju yang selama ini saya pikir bisa dialihfungsikan menjadi baju rumah ternyata nggak pernah terpakai sebagai baju rumah dan numpuk gitu aja di lemari nggak pernah kepilih.  

Semua orang harusnya nyantai setelah seharian kerja, bebas setelah sehari penuh pakai baju kantor. Di kosan adalah waktu saya seharusnya bisa jadi diri saya sendiri seutuhnya. Dan untuk itu saya seharusnya memakai baju yang nyaman dan enak dilihat. Bukannya pakai baju pergi yang udah jelek dan nggak nyaman dipakai di rumah apalagi buat tidur. 

Mempertahankan kerapian 

Setelah semua barang dipilah dan disimpan, hal selanjutnya yang dilakukan adalah mempertahankan apa yang sudah diraih. 

Kuncinya adalah mengembalikan semua barang ke tempatnya semula. Kalau saya pribadi saya memilih untuk memastikan semua barang sudah kembali ke tempatnya di pagi hari, sebelum saya meninggalkan kamar. Setelah pulang kantor saya pasti udah capek, laper, ngantuk. Ngeliat kamar yang rapi saat pulang kosan adalah salah satu kebahagiaan kecil yang bisa membuat lelah sedikit terobati.  

Lebih dari sekadar merapikan 

Setelah menyelesaikan proses beres-beres dan memulai rutinitas baru dengan barang-barang yang dirasa membuat bahagia, selebihnya saya tinggal menikmati hasil dari proses beres-beres tadi. Pada proses beres-beres yang saya lakukan saya membuang 52 potong (baju, jilbab, manset, celana, ciput, dll) dengan berat sekitar 20 kg, 15 buku, tiga pasang sepatu, dan beberapa produk perawatan yang nggak pernah saya pakai. 
“Selagi Anda mengurangi jumlah barang yang Anda miliki melalui proses berbenah, Anda akan sampai pada titik ketika Anda merasakan seberapa banyak yang pas untuk Anda”
Dengan memiliki barang-barang yang sudah saya pilih, saya jadi tahu bahwa di situlah titik cukup untuk diri saya. Dengan mengetahui batas cukup maka akan timbul sendiri perasaan dimana kita merasa butuh atau perlu membeli sesuatu karena dengan barang-barang yang tidak terlalu banyak kita bisa lebih mudah mengidentifikasi mana yang memang sudah waktunya perlu dibeli lagi.
Lebih jauh lagi saya bisa menahan keinginan untuk membeli barang karena saya sadar betapa sulitnya membuang barang.
“Tujuan berbenah yang sejati, menurut saya, adalah agar kita bisa hidup senatural dan sewajar mungkin”
Meskipun saya merasa buku ini bermanfaat bisa saja menurut orang lain tidak atau malah tidak menarik sama sekali. Tapi bagi saya ini adalah salah satu buku yang layak dimiliki. Setidaknya sebagai anak kosan ini adalah buku yang berjasa menjadikan kamar kosan saya lebih nyaman untuk ditinggali.

Comments

Popular posts from this blog

Masker Penutup Wajah (Face Mask Pattern and Tutorial)

Insiden Anjing di Tengah Malam yang Bikin Penasaran