Own Less, Gratitude More: My Journey to Minimalism (1)






Di tengah kehidupan serba rungsing ini, yang menuntut segalanya untuk lebih cepat, lebih banyak, serta gaya hidup yang semakin lama semakin nggak bisa dimengerti esensinya, saya pernah berkhayal untuk bisa menghentikannya, atau paling tidak membuatnya sedikit lebih lambat. Banyak orang berpikir “untuk apa” “kemana” atau “apa yang sebenarnya diperjuangkan”. Tapi nggak banyak yang mau melihat diri secara jujur, bahwa yang dicari-cari selama ini sudah ada dan sudah dimiliki.

Ada banyak nilai filosofis yang bisa dijabarkan, atau direnungi satu-satu, tapi saya mau membuatnya menjadi lebih simpel untuk gagasan tentang minimalism di tulisan ini.

Saya akan mulai dari yang cetek. Minimalism, adalah sebuah cara hidup untuk mengurangi/menghilangkan rasa kepemilikan terhadap barang atau benda -possession with stuffs-. Ide ini muncul dari kesadaran bahwa kebahagiaan tidak datang dari benda-benda yang kita miliki, atau dari banyaknya uang yang kita punya untuk membelinya. 

Semakin hari tanpa disadari kita hidup dengan beeegitu banyak benda. Sebagian besar benda dibeli karena kita diberi tahu bahwa kita membutuhkannya dan bahwa hidup kita bisa lebih bahagia dengan memilikinya. Semakin banyak benda diproduksi, semakin banyak iklan yang dijejalkan, semakin besar keinginan untuk membeli, dan semakin banyak waktu dihabiskan mencari uang untuk membelinya.Begitulah konsumerisme bekerja, seperti lingkaran setan yang siap menghanyutkan siapapun.

Dulu, waktu zaman nganggur, mungkin sekitar tahun 2013, zaman tanggal muda adalah tanggal yang sangat biasa, sebiasa tanggal-tanggal lainnya, saya pernah nemenin temen belanja. Dia beli tas jinjing dan sepatu untuk menghadiri undangan pernikahan temannya beberapa hari lagi. Temen saya ini udah kerja, dan gajinya lumayan, malah lumayan banget bagi saya yang waktu itu masih nyadong ke orang tua. Begitu sampai kasir saya kaget ngeliat total belanja yang dihabiskannya. Saking kagetnya saya cerita ke temen saya yang lain. Reaksi temen saya “halah paling kamu juga gitu besok kalo udah kerja”. Dan beneran T_T Meskipun waktu itu saya ngomel-ngomel dan yakin kalo saya nggak mungkin ngabisin uang sebanyak itu sekali belanja, ketahuilah bahwa kira-kira setahun kemudian saya menjilat ludah sendiri. 

Ketika setahun kemudian saya belanja dengan nominal yang bahkan nggak kalah banyak dari temen saya tadi, saya punya pembelaan. 
 

“Oh mungkin memang begini ya kalo udah kerja dan punya gaji”
“Wajar lah, nyenengin diri, kan udah capek kerja”
“Apalagi dulu si anu kerjanya sampai lembur-lembur segala, ya maklum lah kalo dia ngabisin banyak uang buat beli barang. Mungkin itu salah satu cara bikin bahagia.”


Lalu saya sadar, bahwa ada yang salah dengan logika berpikir yang terdengar sangat manis dan rasional itu. Dan memang nggak sedikit kan hal-hal yang terdengar rasional tapi bertolak belakang dengan nurani.

Berbekal keyakinan tersebut saya mencoba untuk mulai dari diri sendiri, dari yang kecil, dan dari yang mudah. Awalnya memang saya bingung cara memulainya dan merasa kalau barang-barang yang saya miliki memang benar-benar saya butuhkan. Meskipun banyak sekali informasi tentang minimalism di internet, do’s and don’t, dan banyak lagi artikel-artikel panduan lainnya, saya merasa bahwa setiap agama butuh kitab. Ini cuma ibarat ya, plis jangan tuduh saya murtad. -_- 

Kitab yang saya maksud mungkin semacam panduan secara utuh dan menyeluruh, bukan informasi sepotong-sepotong yang sulit untuk direalisasikan. Kemudian, karena konon Jepang adalah master of minimalism maka pilihan saya jatuh pada buku The Life Changing Magic of Tidying Up.

Sebagai anak kosan ada beberapa hal yang tidak bisa sepenuhnya diterapkan. Tapi bagi saya, minimalism ini bisa diadopsi sesuai kebutuhan namun tetap berpegang pada keyakinan bahwa barang, benda, stuff, matter, will not bring happiness to us. So keep it less and do not attach to them. 

Kurang lebih sudah  dua bulanan sejak saya mengurangi barang-barang yang saya miliki. Jujur, tanpa bermaksud melebih-lebihkan, live with less is really makes me happier and calmer. Sedikit sulit untuk menggambarkannya, selain karena kemampuan saya yang terbatas dalam berkata-kata, juga keterbatasan kata-kata itu sendiri dalam mewakili suatu perasaan. It is hard to explain how unbelievably amazing it feels to remove the clutter from my room and life.

Mungkin bisa dianalogikan seperti ini, semakin banyak benda berarti semakin banyak distraksi terhadap pikiran, semakin banyak distraksi maka semakin sulit untuk bisa berkomunikasi dengan diri sendiri. Percayalah, setiap kita punya kemampuan ini. Kemampuan untuk berkomunikasi dengan diri sendiri bisa dengan alami berfungsi jika kita mampu berpikir jernih dan isi kepala ini nggak riuh. 

Saya bukan tipe orang yang bisa konsisten, tapi sekalinya lagi seneng bakal keranjingan sampai lupa yang lain. Jadi ibarat nemu buku bagus saya bakalan merekomendasikan ke orang sampai berbusa-busa, begitu juga dengan minimalism ini. Dan yang jadi korbannya adalah adik sendiri.

Kebetulan beberapa waktu lalu adik saya nginep di kosan dan dia menyadari ada yang berubah dari kamar saya. Jadilah saya cekoki dia dengan paham minimalism ini. Kemudian waktu saya pulang ke Kebumen dia setuju saya tawari untuk diajari ngerapihin kamarnya yang super berantakan. Setelah selesai beberes, komentar dia adalah “deneng dadi kaya nembe pindahan ya mbak, kamare kosong” yang kira-kira artinya “kok jadi kaya baru pindahan ya mbak, kamarnya kosong”. 

Sebenarnya kamarnya nggak bener-bener kosong secara harfiah, ada satu kasur, satu meja belajar yang nyambung lemari kecil, satu lemari plastik jenis laci, dan satu meja bekas tempat PC. Meja bekas PC ini sebenernya perlu disingkirkan karena fungsinya yang dipertanyakan, tapi harus ngelewatin omelan bapak ibu dulu untuk ngebuang barang segede itu dari rumah. Yang membuat adik saya ngerasa kamarnya kosong mungkin adalah karena sudah nggak ada map-map di atas meja, nggak ada buku-buku di atas rak, dan nggak ada lagi pritilan-pritilan nggak jelas bertebaran. Selebihnya kamarnya masih kepenuhan barang tapi sudah jauh lebih manusiawi.

Nggak papa ngeracunin adik sendiri, toh dia happy. 😀

Menjadi minimalist adalah proses yang berkelanjutan dan bukan hasil instan. Itu yang saya yakini. Karena bagi beberapa orang mungkin nggak mudah untuk tiba-tiba hidup dengan segelintir benda yang sebelumnya sangat banyak. Nggak cuma proses mengurangi saja, tapi juga proses menahan untuk membeli/menambah benda/barang. Prakteknya gampang-gampang susah, tapi lama-lama juga bakal terbiasa.


Selain bukunya Marie Kondo, ada satu film dokumenter yang layak ditonton berjudul Minimalism: A Documentary About The Important Things. Terlepas dari sinopsisnya, bagi saya film ini berusaha mengajak untuk mendefinisikan kembali arti sukses bagi setiap orang. Dari film ini juga saya memperoleh pemahaman bahwa minimalism bukan sekadar mengurangi benda atau kepemilikan terhadapnya, lebih dari itu minimalism adalah sebuah cara berpikir untuk lebih sadar dalam menjalani segala hal, yang porsi besarnya adalah hidup itu sendiri. Dengan kesadaran ini diharapkan hal-hal yang kita lakukan, waktu yang digunakan, dan segala hal yang dikorbankan selama kita hidup adalah hal yang kita tahu esensinya, urgensinya, dan kebermanfaatannya. Yang lebih penting lagi, dan perlu ditanyakan betul-betul pada diri sendiri adalah “will this really makes me happy?” 💖

Richness is not having many belongings, but richness is the richness of the soul contentment. -Prophet Muhammad SAW-
Man sacrifices his health in order to make money. Then he sacrifices money to recuperate his health. And then he is so anxious about the future that he doesn't enjoy the present; the result being that he doesn't live in the present or the future; he lives as if he is never going to die, and then dies having never really lived. -Dalai Lama-

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Masker Penutup Wajah (Face Mask Pattern and Tutorial)

Insiden Anjing di Tengah Malam yang Bikin Penasaran