My Skincare Journey (Bagian 2) : Setelah Nggak Pakai Krim Dokter

Setelah memutuskan untuk memulihkan kondisi kulit sendiri ada masa dimana saya benar-benar nggak pakai apa-apa buat kulit. Ibaratnya itu adalah titik puncak heartbreak saya terhadap skincare. Nggak lama sih, mungkin sekitar dua mingguan. Secara garis besar dari waktu itu sampai sekarang -atau setidaknya sampai kulit saya rada mendingan- ada tiga kondisi kulit yang saya alami.

Satu. Kulit kering, bruntusan, kasar. 

Dua. Kulit nggak terlalu kering tapi nggak berminyak, dan muncul jerawat super besar dan banyak. Semacam cystic acne, diduga  efek detox. Pokoknya setelah itu kaya abis kena cacar.

Tiga. Kulit mendekati normal, sudah lumayan terhidrasi tapi bekas-bekas jerawat masih ada. 

Dari kondisi pertama saya mulai cari-cari sabun muka, sebelumnya saya pakai sabun mandi saking desperatenya. Di tahap awal, atau tahap terburuk dari kondisi kulit, saya jadi maniak natural skincare. Referensinya nggak jauh-jauh dari youtube, pinterest, artikel-artikel di internet, atau nanya-nanya temen. Saya nggak tau salah atau benar, tapi saya ngerasa waktu itu butuh sesuatu yang nggak terlalu banyak bahan-bahan artificialnya.

1. Oatmeal
Oatmeal adalah bahan paling pertama yang saya gunakan setelah nggak pakai apa-apa. Kadang buat sabun muka kadang juga dipakai untuk maskeran dicampur green tea, lemon, argan oil atau rosehip oil. Hasilnya enak sih, tapi nggak memberikan perubahan signifikan di kulit saya waktu itu, cuma enak. Karena sebenarnya natural skincare menurut saya memang bukan jalan bagi yang membutuhkan hasil atau reaksi yang langsung terlihat. Natural skincare adalah jalan orang-orang yang sabar dan telaten.

2. Hada Labo facial wash Gokujyun
Sabun ini efek membersihkannya enak, halus di kulit, nggak bikin kering atau ketarik. Tapi lama-lama kulit jadi agak kering ternyata. Terus sabunnya ilang, lebih tepatnya ketinggalan di stasiun. Jadi kayak disetujui sama semesta buat ganti sabun muka.

3. Apple Cider Vinegar

ACV adalah salah satu produk andalan natural skincare enthusiast. Di youtube banyak banget yang merekomendasikan ini makanya saya nyobain. Konon, pH ACV mirip sama pH kulit manusia, tapi ada juga artikel yang menyebutkan kalau ACV terlalu asam. Waktu itu saya pakai ini sebagai toner. Karena asamnya sangat kuat jadi harus didilute dulu sebelum dipakai. Saya pakai yang merek Bragg dan udah dipakai cukup lama waktu itu. 

Nah, berkaitan dengan serangan jerawat yang membabi buta di kondisi kedua kulit saya ACV mungkin yang patut dipersalahkan. Saya memang nggak punya bukti medis, tapi setelah baca-baca beberapa cerita orang-orang yang pakai ACV sebagai toner dan muncul jerawat besar-besar rasanya masuk akal kalau jerawat saya waktu itu juga ulah si ACV. Katanya sih itu efek detox dari bahan-bahan kimia yang numpuk di kulit. Semacam pengorbanan untuk rela jerawatan demi ke detox. Tapi reaksi kulit orang beda-beda, mungkin parah di saya dan mungkin baik-baik aja di yang lain.

4. Extra Virgin Olive Oil, Extra Virgin Coconut Oil

EVOO saya pakai buat OCM atau oil cleansing methode. OCM adalah cara untuk membersihkan kulit sekaligus melembabkan kulit dengan kandungan alami dari oil yang digunakan. Karena untuk kulit jadi sebaiknya produk yang dipakai buat OCM adalah produk yang cosmetic grade dan pastikan organik, serta cold-processed.

Minyak yang dipakai bisa macem-macem, kalau menurut saya sih cocok-cocokan. Di youtube banyak yang pakai EVCO, tapi banyak juga yang kontra sama EVCO untuk OCM ini. Beberapa merekomendasikan Castor oil atau Grapeseed Oil atau kombinasi keduanya.

EVOO bikin kulit saya komedoan, sedangkan EVCO bikin muka saya jadi aneh, berminyak tapi rasanya kering. Mungkin harus dalam jangka waktu lama pakainya, tapi saya keburu nggak mau repot. Menurut salah satu video di Pick Up Limes untuk pemakaian EVCO sebagai skincare, kulit akan membutuhkan waktu untuk beradaptasi. Jadi wajar kalo awal pemakaiannya kulit akan memberikan reaksi-reaksi yang nggak enak seperti komedoan, bruntusan, dan minyakan. Kalo yakin memang sebaiknya dilanjutin karena itu adalah cara kulit menyesuaikan diri dengan bahan-bahan yang diserap.

5. Argan Oil, Rosehip Oil

Argan oil dan Rosehip Oil saya pakai sebagai moisturizer atau campuran masker. Untuk argan oil efeknya kulit jadi lumayan lembab tapi nggak berminyak. Kalau rosehip oil lebih enak buat campuran masker, karena rosehip oil terlalu berminyak kalau dipakai moisturizer.

6. Muddy Facemask The Soap Corner dan Rose Water The Soap Corner

Ini adalah masker yang terbuat dari bahan-bahan natural, antara lain: clay, activated charcoal, oatmeal, cocoa powder, dan cinnamon powder. Bentuknya bubuk jadi harus dicampur dengan air atau pakai rose water. Hasilnya pori-pori kulit jadi bersih, tapi setelah pakai ini harus cuci muka dengan sabun karena warna kulitnya akan jadi abu-abu kaya batu, efek charcoal nya meureun. Sekarang udah nggak pakai karena habis dan umur pakai si masker ini cuma 6 bulan dari waktu kemasan dibuka. Padahal saya jarang maskeran waktu itu ((waktu itu)). Jadi sayang kalo nyisa dan dibuang.

Setelah kulit saya beralih dari kondisi pertama yang sangat kering menjadi muncul jerawat besar-besar yang kayaknya ulah si ACV, jadilah saya mulai melonggarkan idealisme. Saya mulai mau pakai produk-produk skincare tapi tetep pilih-pilih banget. Trus semakin kesini kelonggaran idealisme saya semakin melebar. HAHAHAHA

Waktu itu saya mengalami heartbreak kedua. Muka saya jerawatan paraaah, seumur-umur itu adalah jerawat terburuk yang pernah saya alami. Setiap orang yang lama nggak ketemu pasti akan komentar kenapa muka saya jadi jerawatan begitu. Karena waktu itu saya masih nggak ngerti juga kenapa jadi banyak banget jerawatnya maka jawaban gampangnya adalah “baru berhenti pakai krim dokter”. Dan barulah sekarang-sekarang ini saya tau (kayaknya) penyebabnya adalah akumulasi bahan kimia yang kemudian di detox sama ACV. Mungkin. Wallahu a’lam.


1. Calendula Soap Bar dari The Soap Corner
Waktu saya ngerasa Hada Labo bikin kering akhirnya nyobain ini. Ini soap bar yang sangat lembut di kulit, komposisinya alami, mulai dari EVOO sampai kelopak bunga calendula. Wanginya nggak terlalu kuat, ada bau-bau madu atau oatmeal (?) sama bau bunga. Awalnya saya pikir sabun ini nggak berbusa sama sekali, kirain cuma klenyir-klenyir gitu, ternyata busanya lumayan banyak. Setelah beberapa kali pemakaian efeknya sama dengan Hada Labo, semakin kesini bikin kulit kering. Akhirnya dipakai buat sabun mandi.  


2. The Body Shop Tea Tree Skin Clearing Face Wash

Sebenarnya saya pakai produk ini jauh sebelum muka saya jerawatan. Waktu itu masih pakai Hada Labo dan Calendula nya The Soap Corner tapi udah mulai ngerasa kulitnya jadi kering. Akhirnya waktu dinas ke Surabaya iseng beli ini, dan ternyata cocok. Sampai sekarang masih dipakai (kurang lebih udah 8 bulan) karena isinya banyak banget jadi nggak abis-abis. Selain itu memang karena hasilnya enak di kulit. Bentuknya cair, baunya mirip minyak kayu putih. Di kulit saya sabun ini nggak memberikan efek apa-apa selain membersihkan. Selain beli facial washnya saya juga beli mattifying lotion yang tea tree, tapi ternyata nggak cocok, bikin komedoan, trus dijual lagi.


3. Benton Aloe BHA Toner dan Benton Snail Bee High Content Essence
Selama mencari produk yang cocok untuk mengatasi jerawat besar-besar dan banyak, saya nemu sebuah video di youtube milik Taylor Chow. Di video tersebut dia mengaku pernah mengalami cystic acne dan diselamatkan oleh dua produk ini. Berbekal informasi tersebut dan beberapa rekomendasi orang lain saya akhirnya nyobain. Dari semua produk yang pernah saya pakai, mereka adalah juaranya. Saya nggak tau yang mana yang melakukan apa karena waktu itu langsung pakai bebarengan. Tapi setelah beberapa kali pakai keliatan banget serangan jerawat membabi buta mulai reda, dan nggak muncul lagi jerawat-jerawat sejenis. Alhamdulillah. 


4. Corine De Farme Illuminating Hydrating Care

Ini pelembab yang enak di kulit. Setelah pakai produk ini kulit jadi awet lembab. Selain itu ada antioksidan yang konon fungsinya sama seperti SPF. Tapi, selain efek melembabkan dia nggak memberikan manfaat lain di kulit saya. Padahal udah cocok, nggak bikin jerawatan. Berhubung saya butuh pelembab yang bisa buat ngilangin bekas jerawat maka saya berniat mau ganti yang lain. Oh iya, alasan lainnya adalah karena Corine De Farme ini ma-hal. Jadi kayak nggak sebanding antara pengeluaran sama hasil yang didapat.

Nah ya, jadi begitulah perjalanan skincare saya yang ternyata setelah di list kok (lumayan) banyak. 

Aslinya mah nggak semulus alur di atas, banyaaak pertimbangan sebelum nyobain suatu produk, baca ini itu, googling macem-macem, berkali-kali frustasi, dan juga bimbang antara ngelanjutin produk atau berhenti kalau belum keliatan hasilnya.

Intinya ngerawat kulit itu penting, sepenting ngerawat tubuh biar tetep sehat. Dan ngerawat kulit itu bukan cuma fokus untuk mendapatkan unsur estetik. Dalam prakteknya bebas tergantung pilihan, keyakinan, dan komitmen. Mau saklek pakai yang bener-bener pure alami, mau pakai produk tapi tetep pilih-pilih liat komposisi, atau mau cuek pakai produk apa aja itu sih hak dan kemerdekaan masing-masing.

Tapi ada perbedaan yang jelas tentang tujuan merawat kulit terlepas dari proses apa yang dilakukan. Kalo memang tujuannya untuk terlihat bagus tok mungkin bisa jadi mengabaikan hal-hal penting lain yang menjadikan kulit sehat. Contohnya kesadaran untuk makan-makanan yang memberikan manfaat baik ke kulit maupun tubuh, kaya buah atau sayuran, banyak minum air putih, olahraga, ngurangi makan junk food, ngurangi konsumsi gula, dan nggak ngerokok atau minum alkohol untuk ekstrimnya. 

Mungkin nggak perlu semuluk itu di awal, tapi setidaknya mulai dengan niat untuk sebisa mungkin melakukan hal-hal baik yang memberi manfaat ke tubuh.

Comments

Popular posts from this blog

Masker Penutup Wajah (Face Mask Pattern and Tutorial)

Insiden Anjing di Tengah Malam yang Bikin Penasaran

Dilan : dia adalah Dilanku Tahun 1990