Raden Mandasia: Si Pencuri Daging Sapi


Judul: Raden Mandasia (Si Pencuri Daging Sapi)
Penulis: Yusi Avianto Pareanom
Penerbit: baNANA

Tiga hal yang bakal ditemukan di buku ini: umpatan, masakan, dan petualangan.

Umpatan. I mean, segala jenis umpatan ada di buku ini. Malah, buku ini jadi asyik karena umpatannya, lol. Mulai dari anjing kurap, kadal kopet, tapir buntung, babi pincang, dan masih banyak lagi. Yang paling sering digunakan yang mana lagi kalau bukan, anjing. Tapi atas nama akhlak baik, biarkan segala umpatan yang ada di buku ini tetap di dalam buku.

Masakan. Demi rendang, saya baca buku ini pas lagi ramadhan, yang niat awalnya baca buku buat jadi pengisi waktu nunggu adzan magrib malah bisa-bisa jadi ngurangin pahala. Karena satu, sering bikin kemlecer, dan kedua ya tadi itu umpatan kasarnya. Banyak orang mungkin bisa dengan gampang dibikin ngiler liat iklan masakan yang berkilat-kilat minyak dan kecap, atau daging yang dilumuri mozarela lumer nan mulur-mulur, atau iklan sirup yang es buahnya digambarkan bercipratan karena es batunya kayak dilempar dari langit masuk ke gelas, tapi yakin deh nggak banyak orang yang bisa mendeskripsikan masakan secara tertulis dan bikin pembacanya jadi pengen masak. Bukan cuma pengen makan, pengen masak langsung. 

Petualangan. Inti buku ini adalah petualangannya. Terlepas dari pepatah don’t judge the book by its cover, cover buku ini memang betulan menjadi gambaran isi cerita. Dari jarak jauh cover bukunya agak kurang menarik. Tapi kalo dilihat lebih seksama ilustrasi di dalamnya bener-bener hidup, terutama ketika udah sampe bagian yang sesuai dengan ilustrasi tersebut. 

Tiga orang yang nggak saling kenal, dipertemukan untuk bertualang ke sebuah kerajaan jauh bernama Gerbang Agung. Tujuan mereka adalah untuk mencegah terjadinya perang besar. Perang besar yang konyol, yang setelah baca sampai akhir rasanya pengen nendang bukunya. Eh bukan, pengen melototin penulisnya trus bilang “How could you?”. Kenapa? Nggak bagus? Bukan, tapi karena cerita ini tuh udah bagus dari awal, ngalir banget dan enak diikutin, terus kenapa harus ada kisah legenda jaman dulu semacam itu dimasukin. Yaudahlah, seenggaknya ceritanya enak. Karena sebagai pembaca saya cuma bisa nerima. 

Lanjut ke jalan cerita. Buku ini bercerita tentang seorang pangeran, anak raja, namanya Raden Mandasia. Dia bertemu dengan tokoh aku dalam buku ini yang sebenarnya tokoh aku tersebut punya dendam sama raja atau bapaknya Raden Mandasia. Tapi karena alasan tertentu si aku yang bernama Sungu Lembu akhirnya nemenin Raden Mandasia ke Kerajaan Gerbang Agung yang sangat jauh. Kalau dikira-kira sih dari pulau Jawa sampai daerah timur tengah gitu kayaknya. ((kayaknya))

Untuk sampai ke Gerbang Agung mereka butuh orang buat jadi pemandu. Setelah ditunjukkan oleh nahkoda kapal yang mereka tumpangi akhirnya mereka ditemani oleh Loki Tua. Nah, cerita serunya justru dari kisah-kisah hidup mereka masing-masing, dan dari perjalanan mereka yang memakan waktu berbulan-bulan. 

Ini dongeng yang bagus banget. Berhubung saya orang yang kalo beli buku itu liat penulis, penerbit, dan oh ya cover -tapi cover mah nggak terlalu penting kalo penulis sama penerbit udah oke- kayaknya buku ini nggak akan kebeli kalo bukan karena banyak orang yang ngomongin buku ini bagus dan keren dan menarik. Dan setelah baca saya juga jadi salah satu orang yang menggembor-gemborkan buku ini memang bagus dan keren dan menarik.


PS: bukan untuk anak-anak, ini novel dewasa

Comments

Popular posts from this blog

Masker Penutup Wajah (Face Mask Pattern and Tutorial)

Insiden Anjing di Tengah Malam yang Bikin Penasaran

Dilan : dia adalah Dilanku Tahun 1990