Menemukan Cukup: My Journey to Minimalism (2)



Less is more. Saya tertarik dengan istilah ini sejak lama, tapi baru benar-benar merasakan setelah memutuskan untuk belajar menjadi minimalis. Minimalism yang awalnya saya kenal sebagai sarana untuk mengurangi rasa kepemilikan, secara perlahan ternyata mengubah banyak hal yang nggak pernah diduga. Prosesnya memang nggak semalam jadi, namanya juga belajar. Padahal sebelumnya nggak pernah seniat ini belajar sesuatu hal.

Minimalism bukan agama, bukan aliran spiritual, bukan pula step-by-step yang kaku untuk dilakukan. Semua orang bisa mengadopsinya dengan kebutuhan masing-masing, dengan caranya sendiri. Biasanya stigma yang muncul adalah “cuma boleh punya x barang untuk jadi minimalis”, “cuma pakai baju dengan warna-warna itu tok”, “nggak kerja nine-to-five”, “nggak punya kendaraan pribadi”, dan lain sebagainya. Apapun stigma yang muncul sebenarnya nggak masalah, pada akhirnya yang ngejalanin juga yang bakal paham. Stigma yang muncul tadi bisa jadi sesuai untuk beberapa minimalis, tapi bukan berarti setiap yang jadi minimalis harus ngelakuin itu.  


Tentang Mengurangi Barang

Pondasi dari minimalism adalah “menemukan kadar cukup”, dari apapun. Dan semuanya diawali dengan mengurangi yang ‘keliatan’. Metodenya banyak, macam-macam, tapi intinya sama: identify the essential, eliminate the rest. Pada akhirnya, perlahan ini akan terinstal (((terinstal))) di banyak aspek kehidupan. Sekalinya tahu mana yang penting dan yang dibutuhkan, secara alami ‘alarm’ itu akan kembali aktif. Semacam ngelatih kepekaan alarm yang selama ini ada tapi nggak berfungsi, atau berfungsi tapi lemah. 

Manfaat yang diperoleh

Less Stress

Semakin banyak pilihan semakin sulit manusia untuk menentukan pilihan. Dan semakin banyak pilihan ternyata nggak membuat manusia lebih puas atau bahagia. Padahal semakin banyak pilihan seharusnya manusia semakin merdeka.

Contoh sederhananya, kalo beli baju di mall pembeli disuguhi dengan banyak sekali baju dengan warna, jenis kain, model dan ukuran yang bermacam-macam. Semakin banyak pilihannya maka akan semakin sulit untuk menentukan. Setelah dibeli dan dimiliki, perasaan semacam  “harusnya tadi beli yang model x", “harusnya beli yang warna y”, “kayaknya lebih bagus yang motif z”, “harusnya liat-liat lagi ke toko yang lain” akan punya peluang lebih sering muncul di kemudian hari. Ada kecenderungan untuk merasa bahwa di antara pilihan yang tidak dipilih ada kemungkinan untuk menemukan yang lebih baik dari yang dipilih. Selalu ada perasaan kurang. Dan dunia ini seolah dirancang untuk mengimbangi nafsu manusia yang nggak pernah merasa cukup. Ingin lebih dan lebih.

Less stuff = less stress. Setelah mencoba ngurangin barang, hal yang paling kerasa berubah adalah bebersih itu jadi lebih gampang. Dengan barang yang tinggal adalah barang yang benar-benar dibutuhkan maka pikiran nggak keisi atau terdistraksi dengan barang yang nggak dibutuhkan. Kuncinya, kurangi sampai cukup. 

Menemukan level cukup untuk diri sendiri adalah latihan untuk menyadari satu hal, bahwa memiliki lebih banyak barang bukan jawaban dari yang kita butuhkan, dan bukan juga sarana untuk melengkapi yang kurang. Minimalism mengajari saya bahwa bahagia itu bukan dari apapun atau siapapun. Bahagia itu pekerjaan hati. Dan puncaknya bahagia mungkin adalah ketika hati ini diberi rasa cukup. Cukup kedengarannya sederhana. But “cukup” means a lot. Berapa banyak yang dikasih harta melimpah tapi hatinya nggak pernah merasa cukup? (oh wi, ngomong naon maneh)

Lebih Bersyukur

Punya hal-hal yang benar-benar berarti, bikin bahagia, dan penting, meskipun nggak banyak, tanpa terganggu dengan yang nggak dibutuhin, bisa membuat pikiran lebih terbuka dan jernih bahwa yang dimiliki sangat berharga dan bermanfaat. Rasa syukur dengan memiliki mereka jadi lebih terasa. Percayalah. Less is more.

Lebih Hemat

Setelah nyobain ngurangin barang dan menjaga yang benar-benar penting, disukai, dibutuhkan, keinginan membeli barang jadi berkurang karena sadar gimana sia-sianya punya barang yang nggak perlu. Selama yang dimiliki cukup selama itu juga saya merasa bahwa nggak ada alasan dan keharusan untuk beli atau nambah barang. Sejak jadi minimalis, belanja bukan lagi jalan untuk ngilangin stress atau wahana cari kebahagiaan. As i mentioned before, happiness is an inside job.

Lebih Sehat

Nggak ada lagi beli barang karena “mumpung diskon”, nggak ada lagi beli barang karena “ih lucu”, nggak ada lagi beli barang karena model baru, dan nggak ada lagi beli barang selain karena memang butuh. Call me old fashioned, but i like simple things. It saves more extra money. Artinya penghematan anggaran bisa dialihkan untuk hal-hal yang lebih penting, seperti kesehatan. 

Udah dari lama pengen banget bisa mengolah makanan sendiri, dan sekarang ini baru kesampaian. Belanja sayuran dan buah tiap weekend, nyetok bahan masakan buat seminggu, dan nyiapin makanan atau masak sebelum makan memang kedengaran sedikit lebih ribet dibandingkan dengan jalan kaki ke warung untuk beli nasi bungkus. Tapi sehat memang perlu dibayar dengan perjuangan seniat itu. Sehat bukan hal yang menggiurkan ketika masih dimiliki. Setelah dikasih sakit baru kerasa mahal dan nikmatnya. Apalagi kalo sakitnya serius, sekalipun punya gunung emas pasti keinginannya cuma satu, sembuh.

Saya hidup di lingkungan yang secara nggak langsung ngingetin kalo sehat itu investasi dan bukan hasil instan. Mulai dari orang tua, tetangga, saudara, sampai teman kantor. Bukannya bersyukur atas kesusahan orang lain, tapi mereka yang lagi dikasih takdir sakit bukankah adalah pelajaran bagi yang dikasih nikmat sehat? Ya. Saya memaknai minimalism punya peran ke ranah ini. Bahwa sehat itu penting. Kalaupun nanti ditakdirkan untuk sakit, ya sudah, disyukuri, karena sakit juga bisa jadi penggugur dosa. Tapi menjaga agar tubuh tetap sehat adalah salah satu bentuk apresiasi terhadap satu-satunya ‘kendaraan’ yang saya miliki untuk hidup dan rasa terima kasih kepada Yang Memberi tubuh ini. 


Fokus pada Yang Penting

Identify the essential, eliminate the rest. Setelah mengurangi yang keliatan dan alarm berfungsi, bertahap hati saya mempelajari hal yang sama. Sepertinya, inti dari minimalism malah di sini. Mengurangi barang itu ternyata baru pijakan awal, setelah alarm aktif dan menyala, semua akan berjalan alami dengan sendirinya.
Alarm ini menyala ketika saya ngerasa ada sesuatu yang terlalu berlebihan atau sesuatu yang saya bingung sendiri niatnya untuk apa. Di titik ini saya menemukan irisan antara minimalism dan spiritualism. Dalam Islam, amal itu dilihat dari dua hal, niat dan cara. Niatnya lurus dan caranya benar. Memperbaiki niat ternyata nggak semudah ngomongnya. Melalui minimalism hati saya belajar berfokus pada yang penting. Dan sejak itu hati ini jadi belajar peka dengan niat, jadi sering nanya ke diri sendiri seperti “untuk apa?”, “kenapa ngelakuin ini?”, “tujuannya apa?”, “manfaat nggak?”.

So, Good Bye Social Media

Media sosial adalah salah satu yang membuat saya mempertanyakan kegiatan yang saya lakuin sendiri. Mulai dari scrolling sampai posting. Saya menemukan bahwa saya nggak punya keharusan untuk ngeliatin semua postingan orang. Da emang nggak ada yang nyuruh. Tapi inti yang saya temukan sampai saat ini adalah manfaat yang didapat nggak sebanding dengan waktu dan pikiran yang terpakai. (Wi? Sehat?)

Pun postingan yang diupload. Nggak ada keharusan apapun untuk membagi setiap momen yang saya alami dengan followers atau siapapun lah. Kalaupun harus dibagi, kadang pertanyaan yang muncul “benerankah niatnya cuma mau berbagi?”. 

“Harus serumit itu tah wi hidupmu?”
Me: “Justru ini yang nggak rumit”

Waktu Lebih Banyak

Sekitar hampir dua bulan saya udah nggak pakai medsos lagi, khususnya facebook, instagram dan twitter. Menyisakan Youtube dan Pinterest dengan pertimbangan dua-duanya banyak resep masakan, jahit-menjahit, dan hal-hal lain yang memang dirasa perlu. Identify the essential, eliminate the rest. Waktu yang biasanya buat buka media sosial bisa dialihkan ke hal lain yang lebih manfaat, seperti baca, masak, olahraga, yoga, nulis, atau bahkan traveling. Man, dunia ini luas.

Hadir di Momen Kini

Saya sering mendapati pikiran nerawang jauh dan nggak nyambung dengan apa yang lagi dilakuin. Padahal waktu yang benar-benar dimiliki adalah sekarang, bukan yang sudah lewat atau yang belum datang. Dan seharusnya di situlah kita hidup dan hadir utuh di detik yang sedang dilewati. Media sosial selama ini menjajah pikiran saya tanpa disadari.
Nggak ada salahnya berbagi momen lewat foto atau video, tapi bagi saya memaknai apa yang sedang dirasakan dan benar-benar hadir, utuh, sepikiran-pikirannya adalah hal terbaik yang bisa diberikan ke semua indra di tubuh ini. Jiwa ini kadang cuma butuh tenang, bukan perhatian orang.

Being Content

Selama belajar menemukan kadar cukup, lahir maupun batin, entah gimana, segalanya jadi jelas, atau menurut yang saya rasain jadi lebih kenal sama diri sendiri. Minimalism menjadi semacam jalan buat nemu jawaban pertanyaan-pertanyaan generasi twenty-something yang ngalamin quarter-life crisis. Atau saya lah.

Lepas dari Topeng

The last but not least, minimalism mengajarkan saya untuk aware sama esensi. Minimalism mengajarkan saya untuk lepas dari apapun, siapapun, bahkan dari minimalism itu sendiri. Kita seharusnya nggak butuh label untuk bisa bahagia, nggak butuh topeng dunia untuk jadi mulia, dan nggak perlu siapapun untuk merasa lengkap. Lahir maupun pulang kelak, yang dipunyai ya cuma diri sendiri.


- Selamat menemukan 'cukup' -


Jakarta, 23ᴼC, teh hangat, “Gabrielle Aplin-Home”

Comments

Popular posts from this blog

Masker Penutup Wajah (Face Mask Pattern and Tutorial)

Insiden Anjing di Tengah Malam yang Bikin Penasaran