Lahir Kembali

By dewi kustati - March 30, 2018

Selamat lahir kepada blog baruuu. Uwuwuwuuu
Setelah ngilang sekian lama dan baru nulis lagi rasanya kangen. Tadinya udah nggak mau nulis lagi lho, tapi karena udah jadi semacam kebiasaan -soalnya kalo cuma dipikir sendiri atau dipendem kadang malah jadi nggak enak di hati- jadi ya nggak tega gitu mau ngilangin kebiasaan yang bikin bahagia. Yasudah jadilah memutuskan bikin blog baru ini.
Selama nggak nulis blog banyak banget yang dipikirin, terutama mikirin diri sendiri, hahaha, karena selama ini ternyata jarang mikirin diri sendiri, makanya kurus kali ya. Kalo kata ibu sih "bahagiain diri kamu, kan udah gajian, bisa beli apa yang dipengenin". But, money can't buy happiness, Bu. (yang ini ngomongnya di dalem hati, tapi belanja mah tetep).
Jadiii, ceritanya beberapa waktu lalu ketemu temen, trus dibilang gini:
"Sekarang kaya hidup di gua ya?"
Abis denger gitu trus ngerasa 'ah iya tah? Sengilang itu?' Trus jadi berasa kayak Tom Hanks di Cast Away, cuma nggak brewokan aja, gondrong sih iya. Ternyata aku 'semanusia gua' itu ya...hmm.
Bagi beberapa orang pada kondisi tertentu kadang menyendiri itu diperlukan. Malah buat seorang introvert, menyendiri semacam isi ulang energi. Kontemplasi jadi semacam kebutuhan, seperti tubuh yang butuh makan. Jadi menyendiri tuh bisa jadi momen buat merenungi banyak hal, buat mengevaluasi diri, buat lebih kenal sama diri sendiri, dan kadang juga buat merenungi pesan dari sebuah takdir. Haha geuleuh kan bahasannya takdir. Apalagi di usia segini yang lagi ngalamin quarter-life-crisis. Usia yang bikin orang jadi tiba-tiba sering ngelamun. Jadi kalo dibilang kaya hidup di gua...., ya memang semacam itu kali ya, butuh berjarak dulu dari keramaian.
Sekarang bedanya mungkin adalah aku punya cara pandang baru terhadap banyak hal. I didn't change, I just see things differently now. Nggak tau ya, tapi ini momennya pas banget, seolah-olah Allah tuh kaya ngasih tau gini "ayok wi, jangan kayak anak kecil terus, jangan cengeng, sana perbaiki diri kamu, perbaiki ibadah kamu, belajar yang banyak, jadi orang baik, senengin orang tua, dan kejar cita-cita"
Seolah-olah, iya, seolah-olah kalo ngga kaya gini dewi nggak akan berkembang, nggak akan memperbaiki diri, dan tetep jadi dewi yang keras kepala dan ngerasa paling bener dan 'paling-paling' yang lain. So, at some points i thank Allah for this hardship. Mungkin ini salah satu yang aku pelajari, belajar bersyukur dari hal-hal yang rasanya kurang menyenangkan dengan melihatnya dari banyak sisi.
I no longer force things, what flows, flows, what crashes, crashes. I only have space and energy for things that meant for me. Kalo aku harus tau sesuatu aku pasti bakal tau, kalo aku harus ketemu seseorang, aku pasti bakal ketemu, dan kalo aku harus dapet sesuatu, aku pasti akan dapet. Sesimpel itu aku mikir sekarang. Sisanya, lakuin yang terbaik yang bisa dilakuin.
22e8873d6422c05e763ee01ba193f5fd.jpg Kadang berharap bisa mikir sekalem ini sejak 5 atau 10 tahun yang lalu. Hahaha. Tapi ya mustahil. Itulah kenapa "mengalami" adalah hal yang nggak bisa digantikan dengan belajar dari kesalahan orang lain sekalipun. Mungkin kita bisa menghindari resikonya, tapi kita nggak akan dapet pelajaran dari "ngalamin"nya. Dan disini sih menariknya hidup tuh.
Setiap kita dan masalah kita itu unik. Bahkan reaksi setiap orang dengan masalah yang serupa pun beda-beda, kita punya cara pandang tersendiri. Jadi, apapun reaksi orang lain terhadap apa yang kita lakuin dimaklumin aja kalo nggak sepaham. Antepin weh. Kita sama-sama nggak pernah jadi diri orang lain. Memang nggak selamanya mudah ngeliat sesuatu dari sudut pandang orang lain.
Meski banyak yang berubah, aku lebih suka nyebut diriku lahir kembali, semacam reinkarnasi gitu. Kaya infiltran di supernova yang lahir, mati, lahir, mati, lahir lagi sampai misinya berhasil. Analoginya ngawur yak, wkwk, abis nggak nemu yang lain. Soalnya mirip sama manusia yang baru lahir, butuh banyak penyesuaian dan latihan. Aku pun, harus membiasakan banyak hal yang bersifat rutin dengan perasaan yang baru, dengan cara pandang baru.
Poinnya adalah, cintai hidup, no matter how cacat your life is. We have our whole lives to get it right. Perbaiki, pelan-pelan, sedikit-sedikit, just fix it, jalanin, pake sabar, pake bahagia, pake syukur, dan evaluasi diri terus. Ketika rasanya berat harus inget bahwa kita adalah kapasitas dari ujian yang bakal kita hadepin. Iyap, batasnya ya diri kita sendiri kok.
Selamat lahir kembali, kepada blog dan kepada hidup :)))


*this post is imported from my wordpress blog*

  • Share:

You Might Also Like

0 comments