Bumi Manusia

By dewi kustati - April 29, 2018

"Seorang terpelajar harus juga berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan"
Btw, this book is my serendipity. Ngerasa dapet satu kearifan baru yang menakjubkan.
Ini kayaknya bukan review deh. Kalo ngomongin buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, siapa coba yang nggak tau legendarisnya kaya gimana. Udah terbit di berbagai negara, diterjemahin ke banyak bahasa. Pasti udah banyak yang ngreview kan, jadi aku mau ngebahas yang lain aja ya.
Aku mau membahas satu kearifan yang diajarkan buku ini tentang betapa kita dalam pikiran pun sebaiknya harus udah adil. Nggak cuma kita mesti berlaku baik, itu sih harus, tapi dalam pikiran pun kita harus sudah adil. Karena berlaku baik aja nggak selalu berarti seseorang bener-bener bermaksud seperti apa yang dilakukan kan.
Kalo dalam buku ini, tokohnya, Minke, terpelajar -siswa HBS pribumi- digambarkan bisa bersikap adil terhadap keadaan orang-orang di sekitarnya. Singkatnya, dia nggak bersikap buruk atau menghindari seseorang hanya karena seseorang itu dalam masyarakatnya dianggap kurang beradab. Bahkan doi cuek aja gitu meskipun hidup di lingkungan nyai-nyai. Tapi bukan buat ditiru juga kalo ini mah.
Kita semua punya aib, semua orang pernah berbuat dosa. Ketika aib mereka lagi gilirannya dibuka nggak lantas membuat kita jadi lebih mulia. Adil sejak dalam pikiran bisa berupa kesadaran bahwa aib sendiri bisa jadi lebih banyak dan lebih memalukan dibandingkan aib orang lain.
Kalo konteks di buku ini sih, Minke nggak memandang buruk seseorang hanya karena keburukan masa lalunya. Orang-orang memandang rendah status Nyai Ontosoroh sebagai gundik, tapi mereka nggak tau kenapa dia harus hidup kayak gitu dan gimana nyai ini bersikap tentang masa lalunya. People don't know her 'why' and what she has been through. People judge, that always happened. Beberapa orang punya luka, punya kisah yang kelam dalam hidupnya. Tapi siapa tau dengan kelukaan itu malah menjadikannya seseorang yang bahkan jauh lebih baik dari apa yang disangkakan orang padanya.
Seperti Nyai Ontosoroh ini, yang dijual ayahnya sendiri, lantas belajar banyak dari tuannya -seorang Eropa yang membeli dirinya- kemudian tumbuh menjadi perempuan mandiri dan tangguh. Kekuatan sebenarnya Nyai Ontosoroh ini menurutku adalah kebebasan pikirannya untuk nggak peduli tentang pandangan buruk orang terhadapnya. She was like "I don't care about what you think, i am too busy with my kingdom".
Kenapa harus terpelajar yang disarankan untuk bisa bersikap adil sejak dalam pikiran? Mungkin karena terpelajar di masa itu dianggap berwawasan luas, pengetahuannya kontras banget sama pribumi lainnya, dan malah berpotensi menganggap rendah orang lain. Padahal dengan ilmunya kan harusnya seorang terpelajar punya lebih banyak pertimbangan dalam berpikir.
Zaman dulu kan rasisme masih kental. Di sini kisahnya disandingkan dengan sikap siswa HBS lain (yang mayoritas totok dan indo) terhadap Minke ketika dia terkena kasus dan tersebarlah berita-berita buruk tentangnya. Mereka lantas terhasut dan menghindari Minke. Seolah mau nunjukkin bahwa nggak semua terpelajar bisa berlaku adil dalam pikirannya. Yang mana sikap rasisme ini udah nggak adil banget sejak dalam pikiran: memandang diri lebih baik karena faktor keturunan.
Kearifan buku jadul pun masih relevan sama kehidupan zaman sekarang, dimana orang-orang gampang banget terpantik dan terhasut dengan berita yang belum jelas kebenarannya. Kemudian judge ini itu. Iya sih, aku juga ngejudge (even i judge a book by its cover). Di sini pun aku lagi ngejudge orang bahwa mereka suka ngejudge. Mungkin harus berproses, belajar untuk menimbang satu berita buruk dengan kemungkinan baik yang lain. Harus belajar bahwa setiap orang punya kehidupan dan pilihannya masing-masing, yang nggak ada urusannya sama kita. An INFJ who is trying not to judge. HAHA.
Intinya mungkin adalah setiap kita denger suatu keburukan tentang orang lain, berusahalah mencari seribu satu alasan untuk tetap berprasangka baik kepadanya, dan selalu menempatkan diri tidak lebih mulia dari orang lain. A very humble book.
Aaak, bahagia nggak sih ada buku kayak gini :))) 



*Nyai : julukan bagi perempuan yang diambil istri (secara tidak sah/tanpa dinikahi) oleh seorang Eropa
Totok : murni, keturunan asli Eropa
Indo : keturunan campuran

  • Share:

You Might Also Like

0 comments