Dear PT KAI

By dewi kustati - April 14, 2018

Postingan kali ini ditrigger oleh kejadian beberapa waktu lalu di dalam kereta. Ini bukan kejadian yang layak viral di media sosial sih, ini kejadian yang biasa aja, but, if we look a little bit closer, we will see something big that need our concern.
Kalo pernah naik kereta pasti tau, sekarang ini di setiap gerbong disediakan kresek-kresek kecil di samping tempat duduk penumpang yang digunakan sebagai tempat sampah sementara. Jadi, seorang bapak-bapak yang duduk di depanku ngebuang kresek itu meskipun kreseknya nggak kepake. Selama perjalanan, kami nggak ngebuang apa-apa ke situ, kreseknya masih kempes dan like new, terus dibuang gitu aja tanpa menunaikan perannya sebagai tempat sampah sementara. Kejadian itu menurutku sih miris dan mengiris. Bodohnya lagi, aku nggak punya cukup keberanian untuk negur si bapak-bapak tadi.
Jadi inget, pernah denger di suatu kajian bahwa bangsa ini nggak kekurangan orang-orang baik, tapi bangsa ini kekurangan orang-orang baik yang berani ambil sikap.
Aku nggak tau persis gimana nasib kresek-kresek itu setelah dikolektifin oleh petugas kebersihan, tapi asumsiku kemungkinan besar mereka dibuang gitu aja sebagai sampah. Pun, aku nggak tau persis berapa kresek per hari yang digunakan oleh PT KAI untuk menampung sampah penumpangnya. Mungkin berbeda setiap harinya, tergantung jumlah perjalanan dan jumlah penumpang. Dengan asumsi lagi, kalo satu gerbong kereta ekonomi ada sekitar 20 nomor kursi, dan sepasangnya dikasih satu kresek, berarti ada sekitar 10 tempat kresek dikali dua karena ada dua lajur, jadi 20. Misal satu kereta ada 5 gerbong, berarti 20 x 5 = 100. Tinggal dikalikan dengan banyaknya perjalanan per hari, 10 kali? berarti 1000 kresek, 20 kali? berarti 2000 kresek, dan seterusnya.
That's a lot of kresek, right?
Menurutku ini bukan menjadi tanggung jawab PT KAI sepenuhnya, tapi sebagai perusahaan besar, PT KAI seharusnya bisa melakukan hal yang lebih bijak untuk menangani masalah kebersihan tanpa mengesampingkan dampaknya terhadap lingkungan. Malahan, PT KAI berpotensi bisa mengedukasi penumpangnya untuk lebih peduli terhadap lingkungan. Jadi, bisa diumumkan melalui pengeras suara untuk membuang sampah sesuai dengan aturan yang ditentukan. Harus ada tindakan agar kepedulian terhadap lingkungan ini terhabituasi dalam kehidupan masyarakat. Masalah lingkungan kayak gini memang butuh kesadaran dan keterlibatan banyak pihak, termasuk kita, yang kalo dalam kasus ini sebagai penumpang kereta.
Sebagai ganti kresek-kresek kecil tadi, di setiap kereta bisa disediakan tempat sampah di gerbong tertentu (yang tidak ditempati penumpang), yang jika penumpangnya nggak terlalu males jalan bisa banget untuk ngebuang sampahnya sendiri ke tempat sampah tersebut. Atau kalo sampahnya nggak terlalu banyak dan cuma sekecil bungkus permen atau bungkus makanan ringan, nggak susah lah kalo disimpen dulu di tas untuk nanti dibuang ke tempat sampah atau dibuang ketika petugas kebersihan lewat. Jadi, nggak perlu kan masukin sampah ke kresek untuk kemudian dimasukkan ke dalam plastik yang lebih besar dan mereka bersama-bersama berstatus sampah hanya karena menampung sampah yang sebenarnya bisa dibuang langsung.
Kalo di kereta bisa diberlakukan sanksi penurunan penumpang karena merokok dan itu berhasil, bukan nggak mungkin hukuman yang sama bisa diberlakukan kepada yang membuang sampah sembarangan. Harus segitunyakah? Kenapa nggak. Peraturan dilarang merokok di dalam gerbong dibuat demi kenyamanan bersama, agar penumpang yang lain tidak terganggu dengan asap rokok. Lantas, peraturan yang sama semestinya bisa diberlakukan agar kita nggak semakin mengganggu orang-orang yang hidupnya di sekitar landfill, di sekitar tempat sampah-sampah itu berakhir, mengganggu makhluk hidup di lautan yang kehidupannya terancam karena sampah, atau mengganggu bumi itu sendiri yang semakin hari semakin rusak.
Kenapa kita cuma berpikir sesempit di dalam gerbong kereta kalo sampah yang kita hasilkan akan keluar dari gerbong kereta itu. Bukankah bumi ini adalah kendaraan kita bersama, dan semua pasti pengen nyaman berada di kendaraannya. Tapi kan bumi ini bukan kendaraan pribadi, ada ikan, ada burung, ada penyu, ada beruang, dan lain-lain yang juga hidup di sini. Jadi, masih pantaskah kita merasa nyaman dengan kemudahan fasilitas kresek di kereta yang hanya beberapa jam tapi kemudian menjadi bagian dari tumpukan sampah yang sebenarnya bisa direduksi kalo kita nggak terlalu males jadi makhluk hidup.
f8fed1cd22f59dbfc9afc0ae08297536
Berdasarkan data yang aku baca, disebutkan bahwa diperkirakan ada 500 miliar hingga 1 triliyun kantong plastik yang digunakan penduduk dunia dalam kurun waktu 1 tahun, atau sekitar satu juta per menit.
Aku memang bukan zero waster yang sama sekali nggak ngebuang sampah ke landfill, dan masih jadi bagian dari sistem yang tercipta saat ini. I may not be perfect. Aku disini beropini sebagai penumpang kereta, bukan sebagai orang paling ramah lingkungan di muka bumi ini, dan bukan juga sebagai anggota dari organisasi pecinta lingkungan. Aku masih pake bahan bakar fosil, masih pake listrik PLN, masih pake odol yang bungkusnya dari plastik, masih pake shampo yang wadahnya dari plastik, aku masih pake lotion, sabun mandi, dan beberapa barang lain yang kemasannya juga terbuat dari plastik. Yes, plastic is EVERYWHERE. Tapi kalo kita harus nunggu sempurna untuk mulai mengajak melakukan perubahan-perubahan baik, maka mungkin kita akan nunggu selamanya.
So, PT KAI, please jangan jadi penyumbang satu juta kantong plastik per menit, atau malah lebih?

If you think plastic bags are recyclable, read this.

  • Share:

You Might Also Like

0 comments