Low Impact Movement

By dewi kustati - April 06, 2018

Tahun ini pengen bisa baca bukunya Naomi Klein yang judulnya "This Changes Everything". Soalnya beberapa bulan terakhir ini lagi belajar zero waste lifestyle ceritanya. Tapi harus nabung dulu lah, bukunya bule teh marahal euy. Kan tahun lalu bukunya Marie Kondo yang "The Life Changing Magic of Tidying Up" udah berasa beneran jadi life changer, nah tahun ini siapa tau giliran bukunya Naomi Klein yang bisa jadi life changer. Yeah, sangar nggak tuh bahasanya life changer.
Istilah zero waste sendiri kalo baca-baca di google sih udah dari lama sejarahnya. Tapi akhir-akhir ini katanya lagi digandrungi sama banyak generasi millenial, mungkin ini di Amerika atau Eropa kali ya maksudnya. Kalo di Indonesia kayaknya belum banyak.
Lantas apa hubungan zero waste sama bukunya Naomi Klein? Aslinya nggak bisa ngejelasin, baca bukunya geh acan. Hahaha. Cuma beberapa zero waster di youtube ngrekomendasiin buku ini. Kan jadi penasaran tuh, makanya trus download samplenya di google playstore.
Jadi ini penjelasan dari perspektif sempitku aja ya. Ada satu paragraf yang semoga bisa menjelaskan benang merah antara keduanya: 

Climate change has never received the crisis treatment from our leaders, despite the fact that it carries the risk of destroying lives on a vastly greater scale than collapsed banks or collapsed buildings. The cuts to our greenhouse gas emissions that scientists tell us are necessary in order to greatly reduce the risk of catastrophe are treated as nothing more than gentle suggestions, actions that can be put off pretty much indefinitely. Clearly, what gets declared a crisis is an expression of power and priorities as much as hard facts. But we need not be spectators in all this: politicians aren’t the only ones with the power to declare a crisis. Mass movements of regular people can declare one too.

Kalo ngeliat sekilas paragraf itu, garis besarnya berkaitan dengan ironi global warming yang kita tahu sudah dan sedang terjadi tapi nggak pernah ditanggapi serius oleh para pembuat kebijakan. Gaungnya di masyarakat pun hanya ramai ketika ada peringatan earth hour atau peringatan hari lingkungan, selebihnya belum banyak yang menganggap ini sebagai masalah serius. Tapi, bukan berarti hal-hal kecil yang dilakukan orang-orang yang peduli itu nggak ada artinya, justru itu menjadi salah satu solusi. Zero waste sendiri bisa dibilang sebagai gerakan pemberontakan terhadap sistem yang sudah sangat massive, yang karena itu gerakan pemberontakan ini harus dilakukan secara massive pula, sekalipun cuma dilakuin orang-orang biasa kaya kita.
Definisi gampang dari zero waste adalah nggak ngebuang sampah sama sekali ke landfill. Kalo definisi secara menyeluruhnya mungkin adalah menciptakan suatu sistem yang sustain yang dengan begitu kita bisa hidup tanpa menghasilkan sampah. Untuk sampai ke level ini kayaknya masih jauh ya perjalanannya. Kita masih anteng sama slogan "buanglah sampah pada tempatnya". See, buat ngebuang sampah ke tempatnya aja kita masih harus diingetin dong.
Istilah zero waste sendiri kedengarannya terlalu muluk-muluk, utopis, dan bahkan mustahil, terutama dengan sistem yang sekarang ada. Dalam sehari kita nggak lepas dari konsumsi barang-barang yang kemudian menghasilkan sampah: pasta gigi, sikat gigi, sabun mandi, deodoran, pulpen, bungkus nasi kuning, sedotan plastik dan masih banyak lagi. Semuanya menghasilkan sampah yang meskipun kita buang pada tempatnya, mereka akan berpindah ke tempat lain, bertumpuk menunggu terurai jutaan tahun kemudian atau bahkan selama-lamanya. Pernah denger The Great Pacific Garbage Patch mungkin? Kalo belum, cobain googling deh.
Kalo berkaca sama zero waster dengan trash jar nya -pastilah effortnya luar biasa banget- bisa bikin kita jadi minder dan nyerah seolah zero waste adalah mimpi yang mustahil. Oleh karena kefrustasian ini, salah seorang zero waster di youtube dengan akun Sustainably Vegan mengusung istilah low impact movement buat orang-orang yang mau nyobain lifestyle ini. Karena secara psikologis istilah low impact movement emang lebih menenangkan sih (?) wkwk. Buat aku aja kali ya. Tapi menenangkan asli.
Beberapa minggu lalu kan nyobain jadi zero waster, trus berat badan asa jadi turun, soalnya yang biasa jajan macem-macem jadi harus ngerem (bungkus jajan kan dari plastik). Terus suka stres sendiri kalo dikasih makan siang dari kantor isinya ada sendok dan garpu plastiknya, ada plastik mikanya, ada aqua gelasnya juga. Merasa gagal lah abis itu.
Jadi berbekal pengalaman merasa gagal ini istilah low impact movement bisa menjadi alternatif yang lebih realistis, tapi bukan berarti dijadikan excuse untuk menghasilkan sampah yang sebenarnya bisa diminimalkan. Ini bisa jadi latihan biar bisa dengan bijak ngurangin sampah seoptimal mungkin. Buat reminder juga.
Beberapa hal yang bisa dilakukan buat ikut dalam low impact movement ini adalah:
Mulai dari yang mudah
  1. Bawa tas belanja sendiri.
  2. Bawa botol minum sendiri.
  3. Kurangi jajan di luar, terutama yang dibungkus pakai wadah sekali pakai. Atau bawa wadah sendiri.
  4. (Buat cewek) pakai cloth pad.
  5. Ganti sikat gigi biasa dengan bamboo toothbrush.
  6. Belanja di pasar tradisional atau beli produk lokal karena produk lokal punya jejak karbon yang lebih sedikit.
Coba yang agak menantang
  1. Karena di Indonesia nggak ada akses ke bulk-store bisa diganti dengan beli produk yang ukurannya besar, jadi ngurangin produksi sampah plastik yang dihasilkan dan lebih hemat.
  2. Buat produk pembersih sendiri (sabun, shampoo, pasta gigi, dll)
  3. Belajar membeli yang dibutuhkan, bukan yang diinginkan.
  4. Pakai transportasi umum atau transportasi yang nggak pakai fossil fuels (masih susah ini euy).
Yang agak susah, tapi ngga ada salahnya dicoba
  1. Beralih jadi vegetarian.
  2. Olah sampah organik sendiri menjadi kompos.
Kalaupun di tengah-tengah antrian kasir cuma kita sendiri yang bawa tas belanja, it's ok, nggak perlu lantas ngerasa usaha kita jadi nggak ada nilainya karena lebih banyak yang masih pakai keresek. Tetep istiqomah dan yakin bahwa kita pun bisa membuat perubahan baik. Percayalah, one person can make a difference.
3b0af505db54be8bd486a1632b38d868
Langkah selanjutnya, yang paling susah
  1. Ajak orang-orang terdekat untuk ikut mengurangi sampah dan ambil bagian dalam program penyelamatan bumi tercinta kita ini. Yuk pelan-pelan, bareng-bareng.
Pengalaman ngajak ibu kemarin:
Dewi : "Bu, aku mau bikin tempat buat bikin kompos ya. Nanti ibu lanjutin kalo aku udah balik Bandung"
Ibu : "Pake apa wadahnya? Nanti malah diacak-acak ayam"
Dewi : "Ya kan nanti ditutup Bu, rapet."
Indah : "Kalo mba dewi bikinin juga nggak akan diuruslah sama ibu sama bapak, nggak bakal kepikiran mbak."
Dewi : *posisi berdoa* "Ya Allah mau minta rumah biar bisa bikin tempat kompos sendiri, Amiin"
Ibu & Indah : *ketawa* "Aamiin"
At least I tried. Kapan-kapan ibu harus dibujuk lagi.

Selamat berjuang jadi agen penyelamat bumi :)


Climate change info: 
http://www.thejakartapost.com/life/2018/03/22/climate-change-hawkings-greatest-warning-to-humanity-1521692289.html 
http://www.thejakartapost.com/life/2018/02/13/sea-level-rise-is-accelerating-study.html

  • Share:

You Might Also Like

0 comments