Menunggu

By dewi kustati - May 11, 2018

Sekitar seminggu yang lalu baru dapet kabar kalo mbah uti ku meninggal. Reaksiku yang tiba-tiba nangis rasanya malah aneh, karena waktu mbah kakung dan mbah uti yang satu lagi ninggal aku biasa-biasa aja. Entah mungkin karena mbah uti ini adalah mbah langsungku yang terakhir. Jadi resmilah sekarang aku nggak punya mbah lagi, kecuali mbah-mbah karena kekerabatan. 

Seminggu kemudian, atau tepatnya tadi sore, aku berkesempatan ziarah ke makam mbah uti, sekalian ke keluarga yang lain dalam rangka mau ramadhan. Waktu nyabutin rumput di sekitar makam, aku nyeletuk "nunggu kiamat itu lama ya Bu". 

Dengan backsound suara gesekan daun bambu kering yang lagi disapunya, Ibu ketawa, terus bilang "ya tergantung, kalo bahagia ya nggak akan kerasa lama" 

Setelah bebersih kami berdoa. Selesai berdoa, aku ngeliatin gundukan demi gundukan tanah di sekeliling tempat leluhurku terbaring, sambil membatin 'ya Allah, I will end up here too, someday, terkubur sendirian. Bisa nggak ya bahagia kalo udah di dalem tanah begitu?' Sekarang leluhurku udah di sini, dan cuma masalah waktu untuk keturunannya yang lain. Oh ya, bahkan udah ada paklek, bude dan pakde. Lahir memang urutan, tapi mati siapa yang tau urutannya. Mbah utiku, yang seminggu lalu meninggal, sekarang sudah memasuki alam baru, menunggu sampai kiamat tiba. Aku, cucunya, beserta milyaran manusia yang masih bernafas pun sedang menunggu. 

Rasanya ngeri kalo ngebayangin bahwa aktivitas rutin sehari-hari itu adalah rentetan panjang waktu untuk menunggu mati. Kadang, bahkan malah lupa kalo ada mati di ujung sana yang dituju. Nggak tau kenapa yang sepenting akhirat ini malah sering kelupaan, sering banyak distraksinya, sering susah dilakuinnya. Mungkin karna mati sering ditafsirkan sebagai akhir, jadi manusia menganggap hidup ini lebih berharga. Hidup lebih bisa dibanggakan karena semuanya keliatan, semuanya serba materi. 

Di dunia ini reward nya berasa, abis kerja jumpalitan sebulan terus gajian, hukum aksi reaksinya bisa dirasa oleh panca indera. Sementara dosa, pahala, adalah hal-hal immateri yang kita sendiri nggak tau jumlahnya, nggak keliatan. Tapi yang sering kelupaan bahwa yang keliatan itu fana, sedangkan yang nggak keliatan justru abadi dan jadi bekal. Karena akhirat itu kekal, dan keindahan surga nggak bisa dibayangin, rasanya masuk akal kalo cobaannya semelenakan dunia ini. Ya nggak sih? 

Seperti kata ibu: "kalo bahagia ya nggak akan kerasa lama". Saking bahagianya sama dunia, tau-tau abis waktunya karena nggak kerasa. Terus harus gimana dong? Masa nggak boleh bahagia. 

Mungkin bahagianya harus dibarengi sama syukur, jadi bahagianya punya tumpangan yang bernilai ibadah. Hehe. Punya kerjaan, bahagia, harus syukur. Punya temen-temen yang baik, bahagia, harus syukur. Makan enak, bahagia, harus syukur. Punya tempat tinggal, bahagia, harus syukur. Kalo lagi pas nggak bisa bahagia, ya tumpangannya sabar. Seringan biji zarrah aja ada nilainya di sisi Allah, apalagi seberat sabar. Dengan begitu, harapannya waktu tunggu di alam kubur nanti juga bisa bahagia, biar nggak kerasa lama sampai kiamat tiba. 

Ah, mungkin ya, mungkin, orang yang beruntung di dunia ini adalah orang-orang yang disibukkan dengan kebaikan dan dikasih bahagia karenanya.

  • Share:

You Might Also Like

0 comments