Jalan-jalan ke Singapura 1/2

By dewi kustati - June 08, 2018


Kapan terakhir kali ngelakuin sesuatu untuk pertama kali?
Kalo aku kayaknya ini. Pertama kali ke luar negeri. Udah gitu deket banget cuma ke Singapura. Ceritanya dapet subsidi transport dan penginapan cuma-cuma, jadi ya kapan lagi coba, kapan lagi?? 

Dari rencana awal yang mau ke Bali dan nggak jadi karena alasan yang kurang etis diceritain di sini, akhirnya malah nekat ke Singapura. Liburan yang ramean atau yang melibatkan banyak orang itu butuh direncanakan dengan baik dan matang. Apalagi kalo perjalanannya ke luar negeri. Butuh persyaratan administrasi yang lebih ribet. Tau lah ya. Paspor. Harus dipastikan semua yang mau pergi punya paspor. Dan yang belum punya udah diwanti-wanti dari sebulan sebelum keberangkatan untuk bikin paspor. Aku salah satunya.

Bikin Paspor
Hal-hal yang harus diperhatikan kalo bikin paspor adalah cari informasi sebanyak-banyaknya tentang paspor, jenisnya, kegunaannya, harganya, dan tentu proses pembuatannya yang paling up to date (sekarang pake antrian paspor online lumayan bikin deg-degan kalo butuhnya mendesak). Pengalaman bikin pasporku rada suram, udah salah, mana ngantri lamaaa pisan, untungnya nggak ada masalah pas di imigrasi Singapura.

Perjalanannya
*** Husein Sastranegara, Bandung, 08.30 WIB ***
Bermula dengan drama patunggu-tungguan, kami akhirnya lengkap dan siap berangkat. Aku belum sarapan, di luar bandara nggak pengen makan, di dalem bandara apalagi. Nyantai aja gitu, mikirnya ntarlah sekalian makan siang di Singapura. Niat aslinya mah ngirit.

*** Di atas pesawat ***
#pramugari udah nawarin makanan
#orang-orang mulai pada makan
#terus aroma makanannya semribit
#sel olfaktoriku langsung merespon, diterusin ke otak eh sinkron sama informasi dari lambung yang minim leptin
#ditambah lagi pertimbangan keuangan: ini mungkin tempat terakhir bisa pakai rupiah, nanti kalo makan di Singapura jadi ngurangin stok dolar (yang nggak seberapa itu).

Akhirnya.... "mbak, nasi goreng satu, sama teh panas"

Kalo diitung-itung sih, iya, akan lebih hemat kalo tadi makan nasi rames di kios-kios depan bandara. Tapi kan ya..., nggak boleh gitu, nggak boleh mengandai-andaikan sesuatu yang nggak terjadi dan udah lewat. Ini rezeki Air Asia. Ikhlaskan, toh udah kenyang dan nasi gorengnya enak . -.-

*** Changi Airport, 10.30 WS (Waktu Singapura) ***
Dari terminal 4 kami naik bis bandara ke terminal 2 biar bisa naik MRT untuk melanjutkan perjalanan. Reaksi pertama pas keluar bandara adalah "waaah negaranya sepi banget". Maksudnya negaranya rapiiih. Rapi=sepi (?)

Ya gitu lah maksudnya. Ngerti nggak sih? Nggak semrawut.

Di bandara langsung menuju loket pembelian tiket MRT untuk beli tiket 2 days pass buat naik MRT selama di Singapura. Harganya SGD 26 yang terdiri dari SGD 10 deposit dan SGD 16 buat biaya perjalanan selama 2 hari.

Tujuan kami berikutnya bukan ke hotel. Pertama, karena belum bisa chek-in, kedua karena waktunya terbatas jadi nggak efisien kalo bolak-balik cuma naruh tas. Dari stasiun bandara kami langsung ke Harbour Front dan lanjut pake Sentosa Express. Eh, beberapa ada yang makan siang dulu deng di McD Harbour Front Mall. Aku mah enggak. Kan ngirit. Lagipula udah diganjel nasi goreng air asia. Huhu

***Sentosa Island 13.50 WS***
Kan gini ya, seolah-seolah -nggak tau siapa yang bikin generalisasi begini- kalo belum ada foto di depan Universal Studio Singapore Globe itu kayaknya belum afdol. Karena masuknya mahal jadi foto aja lah di depannya buat syarat sah lol. Maklum lah, ini kan traveling budget minimalist.


"Rame banget kaya pasar malem"
Di sentosa island kami naik wahana skyline and luge. Wahana skyline adalah semacam ayunan berkursi panjang yang kalo dilihat dari pengamannya, si perancang wahana sepertinya berasumsi bahwa yang naik wahana ini wise enough untuk nggak pecicilan. Karena kalo iseng merosotin badan aja nih ya, kayaknya mah, kayaknya yaa nggak akan selamet. Kalo takut ketinggian tutup mata weh sepanjang perjalanan. Hahaha. 

Setelah dianterin sampai atas pake skyline terus turun naik luge, yaitu kendaraan dari plastik(?) yang dari penampakannya asa kurang meyakinkan gitu dan membingungkan. Luge ini memanfaatkan perbedaan ketinggian dataran untuk bisa meluncur. Dan ternyataaa..., naaagih. Tagline nya nggak bohong, once is never enough. Naik dua wahana ini buat sekali jalan sekitar 132.000 rupiah (pas ada promo di traveloka).

 
Skyline


Selanjutnya, di Sentosa Island kami sarolat dulu sambil istirahat. Capek euy jalan terus. Lumayan selonjoran ngademin kaki di mushola.

Dari Sentosa Island lanjut ke Gardens By The Bay.

Rute MRT: Harbour Front - Dhoby Ghaut - Bayfront

*** Gardens By The Bay 18.xx***
Di sini, kami jalan-jalan bentar terus duduk-duduk di sekitar Dragonfly Lake. Dari situ bisa keliatan menara Marina Bay Sands Hotel, Singapore Flyer dan Supertree Grove yang konon ngehits itu. Tapi dia baru nyala sekitar jam 7 malem. Karena masih lumayan sore jadi kami jalan-jalan dulu ke The Shoppes at Marina Bay Sands. Niat awalnya mau ke patung merlion tapi berhubung laper akhirnya makan dulu di mall ini. Di sini susah nyari makanan berlabel halal, akhirnya makan laksa di Hakka Yong Tau Foo seharga SGD 8. 

"Not halal, but no pork, no lard" begitu jawaban masnya waktu aku nanya makanannya halal apa nggak.  

Btw, di sederetan yang jualan makanan kayaknya cuma ini yang memajang tulisan "no pork no lard". Ya sudah, Allah tau lah ya kaki aku udah berasa mau lepas tulang dari dagingnya dan lemes pisan. Bismillah.  

Setelah makan, kami keluar mall dan ternyata langit udah gelap. Dari depan mall ini sederet bangunan pencakar langit dengan kerlip lampu seakan sengaja ditata rapi agar nyaman dilihat. Seolah tinggi dan jarak antar bangunan diatur sedemikian rupa biar semuanya proporsional untuk dinikmati dan dijadikan objek foto. Keren.
Di sebelah The Shoppes at Marina Bay Sands

Meskipun dengan begitu, jadi melewatkan pertunjukan Supertree Grove karena kelamaan di mall nya, mana baliknya kan jauh ya. T_T

Rute MRT: Bayfront - Dhoby Ghaut - China Town

*** China Town - sekitar 21.00 WS ***
Sebagai anggota perjalanan yang nggak begitu paham itinerary secara detail, asumsiku tujuan selanjutnya adalah ke hotel. Sebenernya ini lebih karena kombinasi pundak sakit bawa tas dan kaki udah hampir mati rasa saking capeknya. Kupikir, China Town adalah tempat hotel kami berada.

"Ini kita mau ke hotel ya?" tanyaku polos kepada teman-teman.  

"Belum lah wi, ini masih di China Town, kita kan mau jalan-jalan cari oleh-oleh dulu" diikuti serbuan tawa yang lain seolah cuma aku disitu yang capek badan. Heran, mereka pada minum suplemen apa tadi pagi -_-

Seketika, aku yang mendamba kasur empuk sebagai penutup dari perjalanan menyenangkan sekaligus menyiksa hari ini, harus mengirimkan sinyal darurat ke seluruh tubuh kalau penderitaan ini ternyata masih berlanjut. 

Di China Town, banyak penjual oleh-oleh baik itu pernak-pernik atau makanan ringan. Di Singapura mau ngomong tuh bingung, kalo pake bahasa inggris mereka nanggepinnya campuran inggris-melayu atau malah pake melayu karena penampakan kami yang mungkin serupa orang Malaysia. Tapi kan bahasa melayu ku cuma sekadar imitasinya kartun upin-ipin dengan keterbatasan kosa kata. Hahaha, jadinya tiap ngomong pake bahasa inggris dulu, kalo mereka bales pake melayu yaudah, aku nak cakap pula seperti kak Ros. Betul betul betul.

Selesai belanja oleh-oleh di China Town akhirnya kami menuju ke hotel. Yeaaay. 

Rute MRT: China Town - Dhoby Ghaut - Mountbatten

***Lemon Grass Hotel sekitar 23.xx WS***
Kami menginap di Lemon Grass Hotel. Jaraknya dari stasiun lumayan jauh sih buat aku yang sudah setengah klenger seharian jalan kaki. Di sekitar stasiun dan hotel itu adalah semacam komplek bangunan yang kemungkinan apartemen, cuma tingginya nggak setinggi di Jakarta atau Bandung. 

Sesampainya di kamar hotel baru sadar kalo tinggi ruangannya pun memang lebih rendah dibandingkan ruangan di indonesia. Buat aku yang tinggi badannya di bawah rata-rata sih masih mending lah ya. Tapi kalo kaya gandalf mau nginep di situ mungkin harus mikir dua kali. 

Hal pertama yang dilakukan di hotel adalah ngedeprok sebagai pelampiasan otot kaki yang sudah kremut-kremut. Setelah itu baru mandi, solat lalu menggantung kaki. Kalo kakiku bisa berterimakasih sekaligus mengumpat, mungkin saat itu dia bakal melakukan keduanya. Hahaha. Good job legs.


Next............. Jalan-jalan ke Singapura 2/2

  • Share:

You Might Also Like

0 comments