Lomba Paduan Suara

By dewi kustati - August 08, 2018

Dalam rangka perayaan HUT RI yang ke 73, Kemendag ngadain lomba paduan suara antar eselon satu. Dulu udah pernah sih, tapi lombanya antar eselon dua. Sebagai salah satu unit di bawah Setjen yang punya tim paduan suara, kami ditunjuk buat mewakili lomba. Bedanya yang sekarang ini lombanya niat pisan, karena ada tambahan anggota dari orang Jakarta, jadi kami saling berkunjung buat latihannya. Sekali waktu yang di Jakarta nginep di Bandung buat latihan, terus gantian yang di Bandung nginep di Jakarta buat latihan.

Lomba Pertama 

Lomba paduan suara yang pernah diikuti ada dua jenis, yang satu lomba dalam Kementerian Perdagangan, satu lagi lomba antar kementerian, ngeri euy. Lomba di Kementerian Perdagangan bisa dibilang lomba pertama dan kami berhasil jadi juara dua. Kocak ya, tanpa ekspektasi apa-apa terus dikasih juara dua, bangganya minta ampun lah.

Abis itu terus mendadak 'seperti punya nama'. Haha.

Lomba Kedua

Beberapa waktu kemudian ada lomba antar kementerian, singkat cerita disuruhlah buat mewakili Kemendag. Lombanya diadain di RRI Jakarta dalam rangka memperingati hari Korpri. Lomba yang kali ini miris banget, mengingat ini pertama kalinya kami 'keluar kandang', dan baru belajar bahwa lomba paduan suara antar kementerian itu lebih niat dan lebih serius. Pertama, dari segi panggung, bukan lagi pake auditorium kaya di Kemendag, tapi pake panggung gede yang memang dirancang untuk pertunjukan. Kedua, dari segi membawakan lagunya, kalo di Kemendag masih boleh nyanyi pake instrumen, nah kalo udah antar kementerian nyanyinya akapela.

Perihal kenapa kami ditunjuk adalah karena yang juara satu konon sibuk, eh ternyata mereka ikut juga pas di RRI. Kan jadi semacam kanker gitu nggak sih, atau musuh dalam selimut. Ah udah suudzon nya. Kali aja memang mereka pengen liat kami tampil lagi. 

Hasilnya,..... kami nggak dapet juara, dari lima partisipan kementerian. (terereeeeeeng ~ ~ ~)

Pulangnya di dalem bis ketawa-ketawa, ngetawain diri sendiri. Berani-beraninya lomba dengan lawan sangar-sangar kayak begitu. Bayangin. Bahkan dari wajah mereka, tanpa perlu ngeluarin nada serendah do pun, udah keliatan mereka jago nyanyi, atau seenggaknya ngerti apa itu nilai not dan gimana bikin suara kenceng tanpa perlu ngeden karena suara aslinya emang udah 'suara padus'. Bandingkan aku, yang nyanyi nada rendah aja pake falset, soalnya kalo pake chest voice jadi cempreng. 

Lomba Ketiga 

Dan setelah kekalahan itu nampaknya Kementerian Perdagangan masih belum menyerah untuk membuktikan kalau kami itu....., hmmm, anu, nggak ada orang lagi, makanya disuruh mewakili Kementerian Perdagangan (lagi). Yang baca undangan lomba heran seheran-herannya, kenapa nggak unit 'itu' aja yang mewakili, biar nggak malu-maluin. Hahaha (Alhamdulillah ya sadar diri)

Selama ini selalu kasihan sama pelatihnya, pasti terbebani secara mental karena bahan bakunya kayak begini. Setiap kalah lomba yang paling terpukul itu pak Boyke (pelatihnya). Beliau yang akan murung di belakang peserta atau tiba-tiba ngilang pas pengumuman. Wajar lah ya, beliau merasa bertanggung jawab pasti. Dan setiap sebelum naik panggung untuk lomba, pak Boy selalu bilang “kalau nanti ada kesalahan pasti itu salah saya, jadi jangan jadi beban, rileks saja”. Ya Allah T.T  ada ya orang kayak begitu. Kebanyakan orang biasanya nyalahin orang lain atas kesahalan yang dia buat. Jadi kalo kami kalah itu beban beratnya bukan nggak enak ke Kementerian, tapi lebih ke pelatih. 

Lomba nekat selanjutnya juga antar kementerian dengan peserta yang jauh lebih banyak. Masih sama seperti yang di RRI yaitu untuk memperingati hari Korpri, tapi kali ini diadakan di Kementerian Pariwisata. Waktu itu sistemnya adalah sistem gugur. Hari pertama peserta menyanyikan Mars Korpri, kemudian sepuluh besarnya akan lanjut ke hari kedua untuk membawakan lagu daerah. Lagu yang udah kami siapkan adalah Janger. Nekat banget bawain lagu ini. Janger adalah lagu yang udah latihan berbulan-bulan tapi tetep nggak bagus nyanyinya. Suatu kali pernah ditampilin di acaranya orang Ditmet di Bandung dan itu kacau pisan, parah. Untung teh bukan lomba.

Waktu masuk ke lokasi lomba di Kementeian Pariwisata udah mirip kaya di pitch perfect waktu liat musuh-musuhnya. Ada yang latihan, ada yang pemanasan, ada yang bolak-balik ke toilet karena nervous *ngacung*. Pokoknya, semua hal di situ mulai dari karpet sampe aksesoris peserta lain berupa selendang pink yang dipadukan dengan seragam korpri (?) bikin tangan sama kakiku jadi dingin. Peserta yang lain itu kayak pihak Kementerian bayar paduan suara professional terus dipakein baju Korpri. Tipe-tipe ibu-ibu batak yang biasa nyanyi di gereja gitu lah, dan kami ini lebih mirip mau qosidahan.

Bersyukurnya kami gugur di hari pertama, jadi nggak perlu bawain Janger di depan mereka 
(terereeeeeeng ~ ~ ~) 

Lomba Sekarang 

Nah, setelah ngeliat banyak peserta lomba paduan suara dari banyak kementerian jadi ngerti dan tau dimana posisi kami berada. 

Katakanlah, kami jago kandang. Maka dari itu, kami berusaha keras di lomba yang sekarang. 

Tapi, ya gitu. Dengan pertimbangan pertama, lagu Janger ini nggak gampang, jadi mungkin bisa dapet nilai tambah sekalipun nggak sempurna bawainnya. Pertimbangan kedua, dulu kami juara dua, bukan nggak mungkin kan kali ini jadi juara satu, atau malah tiga. Hahaha. Pertimbangan ketiga kami nyanyinya akapela, alias nggak pake instrument, siapa tau bisa dapet nilai tambah karena suara kami jadi lebih jelas fals enggaknya. Dengan pertimbangan semua itu, kami pasang standar terlalu tinggi. Aku nggak tau persisnya apa yang dirasain anggota lain, tapi itu sih yang aku rasain.

Dengan nomor urut terakhir 7, kami maju ke panggung. Lagu dimulai dengan Mars Kemendag.

Yang dirasain adalah temponya lari-lari padahal semalem latihan baik-baik aja. Terus suaranya, powernya lebih kecil dari latihan semalem padahal micnya nambah tiga. Rupanya omongan Pak Boy semalem terbukti “inget, besok suara akan lebih diserap karena banyak penonton, sekarang ruangan kosong”, jadi ini kenapa suaranya tiba-tiba lebih pelan dari latihan.

Setiap lomba jantung rasanya berdegup lima kali lebih cepat, produksi keringat meningkat, dan jadinya ngatur nafas tambah susah. Pak Boy, yang jadi dirijen waktu itu, mukanya udah nggak kobe, hahaha, jelas menggambarkan kalo semua ini nggak beres. Bodor lah.

Pak Boy berulang kali mengucap “sabar, sabar” tanpa mengeluarkan suara. Persis seperti saat latihan kalo kami nyanyinya terlalu emosi. Hanya waktu itu, Pak Boy, nggak punya kendali untuk mengontrol lebih jauh selain dari ayunan tangannya. Seperti yang selalu dikatakan beliau “power itu nggak sama dengan teriak, power harus keras tapi suara harus tetap bulat, makanya jangan pake emosi”.

Lagu mars perdagangan berakhir. 

Lanjut ke lagu Janger.

Hal yang sama pun terjadi, temponya lari-lari. Aku ngerasa semua yang nyanyi pengen ini cepet beres lalu turun panggung. Yang penting mangap lah. Bisa dimaklumi banget, karena ketika tampil di hadapan orang banyak itu tekanannya luar biasa, deg-degan iya, takut salah iya, mikir nada juga, mikir tempo pula, takut salah lirik, macem-macem jadi satu, nggak peduli berapa kali udah lomba, deg-degan mah tetep weh deg-degan.

Sekalipun kami nyanyinya acak-acakan, penonton nggak ada yang tau salah benernya. Apalagi lagu Janger ini meriah banget. Penonton taunya 'rame nih lagunya'. Maka ketika lagu ini diakhiri dengan gebrakan kaki dan teriakan "Janger" dari kami, seketika tepuk tangan dan sorakan meriah pun berhamburan dari penonton. Tanpa maksud melebih-lebihkan, di antara semua peserta, kami dapet tepuk tangan paling meriah. Tapi, kembali lagi, penonton nggak tau kalo kami nyanyinya banyak yang nggak pas, acak-acakan, buru-buru, penonton nggak tau partiturnya gimana. Atau sebenernya, yang nonton kebanyakan orang Setjen. Hahahaha.

Jadi, penilaian ada di tangan juri, bukan meriahnya tepuk tangan penonton. 

Kurang lebih setengah jam kemudian, juri sudah mendapatkan nama-nama pemenang. Kata mereka, ketiga juri sempat nggak sepaham dengan hasil dari rekan mereka. Lalu, hasil dibacakan mulai dari juara harapan. 

Karena kami ngerti kami ini jago kandang, jadilah kami 'merasa' bisa lah menang disini mah. Harusnya bisa. 

Setelah meriahnya teriakan juara harapan yang diraih peserta nomor urut lima, juri kembali mengumumkan juara ketiga. Sayangnya, hasil keputusan juara tiga ini nggak disambut meriah oleh pesertanya sendiri. Ya, nomor urut 7, kami. Ada nada keterpaksaan dalam sorakan kami karena nggak enak, masa yang juara harapan seteriak itu dan kami malah leuleus. 

Tingkat kekecewaan sebanding dengan tingkat pengharapan. 

Kami berharap ketinggian.

Intinya gitu.

Terlepas dari banyaknya spekulasi ini itu. 

Padahal harusnya kami bersyukur dapet juara tiga. Malah seharusnya jadi pelajaran kenapa dulu juara dua sekarang jadi juara tiga. 

Mungkin semangat kami bertambah, mungkin intensitas latihan bertambah, mungkin tingkat kesulitan lagu juga bertambah, pengalaman kami pun mungkin bertambah. Tapi mungkin juga kami nggak sadar kalo seiring dengan itu kekuatan lawan kami pun bertambah. Dengan nggak menyadari itu, kami merasa lebih, kami berharap lebih.

Sekalipun setiap latihan hasilnya semakin bagus, satu hal yang dilupakan bahwa "sebagus apapun latihan, performance itu 50% dari latihan”, kata Pak Boyke suatu hari sebelum lomba di Kemenpar.

Jadi ternyata, optimis dan sombong itu bedanya setipis kulit bawang. Seharusnya, optimis itu keyakinan untuk bisa memberikan yang terbaik, bukan untuk menunjukkan kita yang terbaik.
 
'malam sebelum lomba, sehabis latihan'



PS:  link nya baru ada yang latihan

  • Share:

You Might Also Like

0 comments