Sewindu di Bandung

By dewi kustati - October 13, 2018

Nggak kerasa udah 8 tahun hidup di Kota Kembang. Diingetinnya pun ketika ketemu Rizky yang ternyata waktu itu baru delapan bulan tinggal di Bandung (hai Riz). Ibarat robot yang udah dipasang chip pemrograman, Dewi kecil pun ternyata pernah punya mimpi untuk bisa tinggal di Bandung. Mungkin itu yang namanya firasat, atau malah terlalu berlebihan kalo mau disandingkan derajatnya sebagai firasat. Tapi kok terlalu pas kalo mau dibilang kebetulan.

Kalo flashback ke masa lalu, aku nggak punya pilihan lain selain harus kuliah di Bandung, alasannya ya karena nggak diterima dimana-mana selain di Bandung. Salah satu masa sulit yang semula seperti “dipaksa" mau nggak mau untuk kuliah di Bandung, ternyata menjadi jalan yang alhamdulillah membawa banyak kebaikan dan semoga juga banyak keberkahan. Karena jalan hidup memang udah dituliskan, banyak hal yang kesannya dipaksa untuk dijalani, dan kesepakatan manusia menyebutnya sebagai takdir, “dipaksa nggak diterima”, “dipaksa jatuh”, “dipaksa tidak jadi”, “dipaksa menjalani”, dan dipaksa-dipaksa yang lain yang berat di awal. Seolah udah diperlihatkan dari awal kehidupan seorang manusia, yang kesannya dipaksa lahir melalui proses ngeden sang ibu, padahal kan memang sudah waktunya lahir. Udah gitu si bayi pun akan nangis sebagai bukti awal kelahiran itu berat buat dia. Tapi memang gitu SOP nya, harus dilahirkan dan baiknya sih, nangis. Kalo nggak dilahirkan nanti malah lebih banyak yang nangis.

Untungnya nih, kata psikolog Barry Schwartz semakin banyak pilihan yang kita punya semakin kita nggak bahagia sama apa yang kita pilih. Liat deh the paradox of choice. Jadi kalo mengandai-andaikan seandainya aku dulu milih kuliah di univ A, B, C, D pasti bakal begini dan begitu, nah aku nggak bisa kek gitu, soalnya cuma diterima di satu tempat. Lagipula hanya karena sesuatu hal bisa terjadi dengan cara yang berbeda, bukan berarti yang nggak terjadi itu lebih baik dari apa yang terjadi. Ya nggak sih.

Kebumen memang nggak akan tergantikan sebagai kota kelahiran, tapi Bandung juga sudah menjadi bagian dari perjalanan hidup. Bisa dibilang sepertiga hidupku udah dihabiskan di sini, dan masih terus berlanjut. Sampai sekarang masih fifty-fifty antara mau hidup di Bandung terus atau nggak. Mungkin harus pake momen dipaksa lagi untuk membuat dewi pindah dari kota ini. Soalnya Bandung itu adalah kota yang gampang dibetahi, meskipun dulu awal kuliah di sini selalu homesick setiap awal semester. Itu memang karena akunya yang biyungen. Bukan salah Bandung kalo aku nangis dleweran sambil nelpon ibu hanya karena segala kemudahan di rumah tiba-tiba raib begitu sampai kota ini. Sama seperti si bayi yang baru dilahirkan, aku harus “lahir” dan keluar dari kenyamanan rahim kampung halaman untuk hidup sendiri di perantauan. Mengubah kebiasaan yang semula dengan mudahnya nyiduk nutrisi lewat plasenta dapur rumah dan segala kemudahan sistem rahimnya. Belajar ngatur uang sendiri, belajar ngatur makan sendiri, dan yang paling susah belajar nahan kepengen pulang seberat apapun. Si bayi pun nggak akan menyerah lalu bilang “aku kayaknya nggak bakat jalan deh” kemudian berhenti belajar jalan lalu masuk rahim lagi. Mana bisa.

Ternyata lama-lama juga bisa hidup mandiri, bahkan dapet kerjaannya pun balik lagi ke sini. Seolah, Bandungnya nggak mau kehilangan aku. Hahaha. Atau akunya yang kangen Bandung.

Masalahnya, delapan tahun hidup di sini nggak bikin aku jadi fasih berbahasa sunda. Paling cuma dapet logat sama kata-kata populernya doang. Urang teh mah ya, sok lieur. Tah kitu.

Udah gitu, penyakitnya manusia kadang susah bersyukur sama apa yang dimilikinya. Tanpa bermaksud narsis, hidup di Bandung menurutku adalah salah satu hal yang patut disyukuri. Kalo tinggal di kota destinasi wisata biasanya malah jarang jalan-jalan ke tempat wisatanya. Entah cuma aku yang kek gitu, bisa juga karna kitu-kitu deui wisatana, atau cuma masalah prioritas. Dan hal ini paling sering terlintas ketika berhenti di lampu merah (?), ngebayangin betapa orang pengen main ke Bandung buat jalan-jalan (SOALNYA KAN JADI MACET TUH). Terus aku yang bisa main di Bandung dengan mudahnya menganggap itu hal biasa, mungkin sebenernya ada teori semakin gampang semakin nggak asik gitu ya. Lalu berapa orang yang cuma bisa aku kasih jawaban “hayuk” dan “sini atuh kapan” ketika bilang “pengen main ke Bandung ih”. Percayalah, yang di Bandung ini pun sering kangen Kebumen. Kita merindukan apa yang jauh. Tapi bukan berarti kita nggak bisa mencintai apa yang dekat.

Setelah dikasih takdir kuliah dan kerja di Bandung, dalam waktu dekat bakal sidang skripsi di kota ini pula. Skripsi oh skripsi. Bikin aku lama nggak nulis blog, dan lama nggak pulang kampung. Ternyata setelah delapan tahun aku masih bisa rindu Kebumen. Mungkin akan selalu rindu Kebumen. Tapi bukan salah Bandung. :)

  • Share:

You Might Also Like

4 comments

  1. Haiiii.... Kapan wisuda teh? Mangat ya.


    Dari,
    Yang waktu itu baru 8 bulan tinggal di Bandung dan sekarang sudah 10 bulan tinggal di Bandung 💕

    ReplyDelete
    Replies
    1. Insya Allah November riz kalo lancar, sudah tidak tahan pengen beres. Hahaha

      Delete
    2. Apakah perlu kukirim bunga sama coklat ben seperti wisuda mahasiswa sesungguhnya?wkwk

      Delete
    3. Nggak sekalian ditawari make up wisuda gratis? Wkwkwk

      Delete