Jakarta isn't that bad

By dewi kustati - February 23, 2019

Jadi jadi jadi, bulan ini diberi kesempatan bermalam di Jakarta sedikit lebih lama dari biasanya buat coaching sama ujian penyetaraan ijazah. Di hari kedua ujian yang alhamdulillah beres lebih awal, aku berniat untuk nengokin bulek yang udah lama banget nggak ketemu. Yeaaay. Meskipun kalo naik ojol cuma 23 ribu sekali jalan, tapi dengan alasan aku nggak mau kepanasan, maka dengan rasa was-was bercampur penasaran, aku putuskan naik bus trans jakarta. Yeaaay (lagi). 

Syarat pertama buat naik bus way adalah punya e-money, yang kemudian kubeli di Indomaret dengan harga 70 ribu. Iya ya, jebul luweh larang timbang pake ojol. Anggep aja itu adalah harga untuk nggak mau kepanasan. Wkwk. Berbekal informasi dari kawan-kawan yang sudah veteran naik bus trans jakarta, aku pun diberi wejangan-wejangan yang menenangkan batin seperti “gampang kok, tinggal ikuti rutenya”, “jangan lupa ngetap kartu”, “nanti kalo bingung tanya mas-masnya aja”, “coba donlot aplikasinya”. 

Perjalanan pun berjalan baik, nyaris baik, karena aku sempat kebablasan sampe ASMI, soalnya nggak tau kalo harusnya turun di Cempaka Timur lalu jalan kaki ke Cempaka Mas. 

Kesan naik bus way yang bayarnya pake e-money adalah: bus nya nyaman, dingin, nggak macet, penumpangnya juga sepi, jadi aku bisa duduk dengan leluasa, bisa pindah-pindah, keliatan udik memang tapi biarlah, wkwk. Kapan coba Kebumen ada bus way, jadi kalo mau kemana-mana tinggal tap tap tap, nggak perlu salip-salipan sama truk dan bis budiman, hahaha. Overall, bus trans jakarta adalah sarana transportasi yang nyaman dan mungkin perlu dibuatkan papan rutenya di halte-halte, biar penumpang newbie kayak aku ini nggak minder duluan sebelum nyobain. 

Terlepas dari aku naik busnya jam 1 siang, waktu ketika orang-orang masih berkutat dengan kesibukannya masing-masing, dan jalanan Jakarta belum padat dipenuhi kendaraan, tapi perjalanan naik bus way ini adalah pengalaman yang bisa membuka pikiranku bahwa:

“Jakarta.terlihat.sangat.normal.dari.dalam.bus way”. 

Membuka pikiran? Iya, karena Jakarta dalam benakku selama ini adalah kota yang bising, dan kota yang dengan nyebutin namanya aja bisa bikin paru-paru tiba-tiba sesak ngebayangin engepnya. But hey, Lembang kalo siang hari juga bisa terik minta ampun, Bandung kalo weekend juga semrawut naudzubillah, dan jalanan Cihanjuang bisa menjelma sungai kalo hujan deres. Dan ya itu, jalanan Kebumen kadang bisa jadi pertaruhan hidup mati pengendara motor. 

Meskipun minggu sebelumnya dihadapkan kenyataan juteknya supir taksi yang nganterin ke Kemendag, masih ada bapak-bapak baik hati yang dengan ramah nunjukin letak warteg deket hotel. Disitu aku belajar (cieh) bahwa bukan sikap yang bijak untuk menempatkan sesuatu lebih unggul dari yang lain hanya dengan melihatnya dari satu dua sisi. Yang baik suatu saat bisa jadi buruk, yang buruk suatu saat bisa jadi baik. (Nggeh mboten?).

Maka dari kacamata penumpang bus way di hari Selasa siang, Jakarta nggak seburuk itu kok.

Jadi, dimanapun tempatnya minumnya teh botol sosro, haha bukan, dimanapun tempatnya wajar lah kalo ada nggak sreg-nya. Baiknya, jangan dikit-dikit ngeluh. Kemacetan dan kesemrawutan kota adalah satu hal yang butuh untuk dibereskan. Tapi, ngeluh ini itu tanpa ngasih solusi ya kurang baik juga. Meskipun jumlah penduduk Jakarta yang banyak itu membuat solusi-solusi seperti bus way dan transportasi massa lainnya masih belum cukup, setidaknya bukan cuma keluhan yang tidak membuahkan hasil kan.

  • Share:

You Might Also Like

0 comments