January Reading

By dewi kustati - February 06, 2019


1.    Untuk Negeriku #1: Bukittinggi-Rotterdam lewat Betawi (Non-Fiksi) 💛💛💛💛
Penulis: Mohammad Hatta
Penerbit: Kompas

Ini adalah buku pertama dari tiga buku otobiografi yang ditulis oleh Mohammad Hatta sendiri. Isinya bercerita mulai dari masa kecil Bung Hatta di Bukittinggi sampai ketika beliau bebas setelah diasingkan di Boven Digoel. Sebagian besar isi cerita menceritakan perjalanan pendidikan beliau di PHS Jakarta dan berlanjut sekolah dagang di Handelshogeschool Rotterdam. 

Karena gaya bahasa yang digunakan masih cukup jadul, buku ini lebih terkesan seperti buku hariannya Bung Hatta, dan juga jadi lumayan sulit buat diikuti. Ada beberapa rincian yang sebenarnya nggak perlu dan bikin bosen. Dari segi enak nggaknya buat bacaan, biografi itu mungkin memang lebih enak kalo dituliskan jadi semacam novel dari sudut pandang orang lain. Kaya buku “Rudy” biografinya Pak Habibi misalnya. Tapi ada manfaat lain, dengan diceritakan langsung oleh orang pertama banyak kesan yang bisa dihadirkan tentang yang bersangkutan, seperti gaya penuturan, cara berpikir, dan juga sudut pandang beliau terhadap banyak hal.

Secara keseluruhan buku ini isinya sangat informatif, terutama untuk lebih tau tentang sejarah Indonesia berdasarkan sudut pandang seorang Bung Hatta sendiri. Seharusnya buku-buku semacam ini bisa jadi rekomendasi para guru sejarah di sekolah-sekolah, jadi pelajaran sejarah nggak lagi sekaku hafalan tanggal dan nama tempat. Dengan gitu siswa bisa diajak untuk ikut memahami perjuangan pahlawan mulai dari cara mereka berusaha untuk bisa melanjutkan pendidikan sampai cara mereka berpikir dan bertindak dalam memperjuangkan kemerdekaan.

2.    Strawberry Generation (Non-Fiksi) 💛💛💛💛
Penulis: Rhenald Kasali
Penerbit: Mizan


"Bakat itu bukan sesuatu yang sudah ada pada diri seorang manusia, melainkan manusia itu sendiri dibantu oleh orang-orang melalui latihan dan kerja keras."

Buku ini ternyata lebih seperti buku parenting (adeuh) dan banyak memberikan kritik terhadap sistem pendidikan di Indonesia. Mengupas tentang sebuah generasi yang dibesarkan oleh orang tua-orang tua yang sudah mapan, Rhenald Kasali menyebut mereka sebagai strawberry generation, indah dalam tampilan tapi mudah rapuh menjalani kehidupan. Rapuh dalam arti terlalu manja untuk bisa menyelesaikan masalahnya sendiri sehingga banyak dari mereka adalah orang-orang dengan gelar-gelar hebat tapi nggak tau harus berbuat apa dengan hidupnya.

"Yang lebih penting dari pengetahuan yang dapat diberikan orang tua kepada anak-anaknya adalah life skills, yang tidak didapatkan dari guru/kurikulum."

Salah satu pesan dari buku ini, kelak kalo jadi orang tua, janganlah cepat-cepat merampas kesulitan yang dihadapi anak-anak, karena masalah akan melatih mereka berpikir untuk mencari solusi. Di buku ini juga banyak dikupas gagasan-gagasan mengenai perubahan sistem pendidikan, seperti dengan merampingkan jumlah mata pelajaran dan mengembangkan kurikulum untuk nggak sekedar menjadikan hafalan sebagai tolok ukur kepandaian siswa. Metode hafalan yang selama ini diterapkan telah melahirkan generasi yang banyak pengetahuan tapi minim pengalaman dan dangkal pemahaman. 

3. Cantik Itu Luka (Fiksi) 💛💛💛💛
Penulis: Eka Kurniawan
Penerbit: Gramedia

Khas Eka Kurniawan, setiap tokohnya punya cerita yang sangat terperinci. Mungkin itulah kenapa novelnya jadi tebel pisan. Inti dari cerita yang disampaikan adalah tentang balas dendam seorang laki-laki yang kekasihnya direbut sehingga mengutuk keturunan mereka menjadi orang-orang yang mendapatkan banyak cinta lalu ditinggalkan. Kutukan itu dirasakan oleh tokoh utamanya, Dewi Ayu yang melahirkan tiga anak perempuan dengan kecantikan luar biasa, yang dengan kecantikan mereka itu membawa banyak kesengsaraan bagi diri mereka. Menyadari kecantikan ketiga anaknya yang membawa petaka, pada kehamilan keempat Dewi Ayu berharap melahirkan anak buruk rupa. Harapannya terwujud, meski tanpa doa.


"Telah bertahun-tahun aku tak lagi percaya doa." "Tergantung pada siapa kau berdoa," Rosinah tersenyum. "Beberapa tuhan memang terbukti pelit."  

Cerita ini dikisahkan terjadi sejak masa penjajahan Belanda, Jepang sampai masa setelah kemerdekaan. Yang membuat menarik adalah karena novel ini surealis, dengan kalimat pembuka yang sangat teramat baik. Jadi akan ada banyak hal-hal tidak masuk akal yang terjadi dalam novel ini, seperti manusia yang bangkit dari kubur setelah dua puluh satu tahun kematian, sampai kehamilan yang tiba-tiba menghilang hanya dengan sendawa (?). Koplak.

Baca buku ini serem tapi lucu.

3.    Don't Follow Your Passion (Non-Fiksi) 💛💛💛
Penulis: Cal Newport
Penerbit: Nourabooks

Sempat nggak percaya bisa nemu bukunya Cal Newport di Perpustakaan PPSDK. Awalnya buku don’t follow your passion kupikir adalah jenis buku yang menarik minat pembaca dengan ngetwist judulnya. Ternyata, isi buku ini cukup membuka banyak kemungkinan tentang bagaimana cara manusia memaknai passion.

Dalam buku ini terdapat banyak kisah hidup beberapa orang maupun tokoh terkenal (seperti Steve Jobs) yang digunakan Cal sebagai objek penelitiannya. Nah, dari mereka inilah Cal merangkum penelitiannya untuk menemukan ramuan bagaimana orang-orang pada akhirnya bisa mencintai pekerjaan mereka dan sukses di dalamnya.

Hipotesis passion mengklaim bahwa kunci kebahagiaan dalam bekerja adalah mencari tahu terlebih dahulu apa yang Anda sukai. Kemudian menemukan pekerjaan yang sesuai dengan passion itu.

Menurut Cal passion itu abstrak. Semacam menemukan pembelaan karena aku merasa tercerahkan bahwa selama ini aku bukan manusia yang terlahir kebingungan dengan pertanyaan semacam “apa pekerjaanku udah tepat?” “kalo mau follow passion harus mulai darimana?”.

Menurut Cal, hipotesis semacam itu berpotensi bikin orang jadi less happy. Bisa membuat seseorang dalam pekerjaan yang dijalani gamang dalam bayang-bayang “mengejar passion” dan pekerjaannya saat itu malah cenderung terasa sebagai siksaan. Dari contoh-contoh di buku ini Cal bertemu dengan beberapa orang yang pada akhirnya gagal karena meninggalkan karirnya demi ngelakuin hal karena mengikuti saran follow your passion. Jebakan passion.

"Bekerja dengan tepat lebih baik daripada menemukan pekerjaan yang tepat."

Sesuai tujuan buku ini, Cal mempunyai beberapa cara untuk mencintai pekerjaan kita dan kemudian sukses di dalamnya. Pertama-tama yang harus dilakukan adalah mencintai dulu apa yang dikerjakan sekarang sekaligus memupuk kompetensi sebaik-baiknya. Cal mengutip kata-kata Steve Martin: "Be so good they can't ignore you".

Yang bikin kurang sreg dari buku ini adalah beberapa bagian terkesan seperti cocoklogi, seolah penulis nyari contoh kasus untuk menguatkan/membenarkan argumennya.
                                                 

5. I Am Sarahza (Fiksi) 💛💛💛
Penulis: Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra
Penerbit: Republika

Di halaman ke 195 baca buku ini, aku nangis, padahal di seperlima bagian pertama aku merutuk-rutuk karena aku merasa buku ini cheesy sekali.

Buku ini lumayan banyak diperbincangkan dan premisnya jadi keliatan banget, tentang perjuangan sepasang suami istri untuk bisa memperoleh keturunan. Diawali dengan beberapa adegan pertemuan Hanum dan Rangga sebagai tokoh utamanya, buku ini sempat bikin aku pengen berhenti baca karena kesannya seperti baca buku diary mereka berdua. Geli.

"Aku tak tahu bagaimana menyakitkannya sang waktu memisahkan keberuntungan manusia yang satu dengan lainnya dalam menanti seorang buah hati"

Sebagai novel yang diangkat dari kisah nyata, penulis menempatkan cerita dari beberapa sudut pandang, yaitu Hanum, Rangga, dan Sarahza, dengan sudut pandang Sarahza adalah sudut pandang serba tahu yang merupakan sisi “fiksi”nya, metafora dari sesuatu gaib yang manusia tidak tau. Semacam visualisasi dalam film Joy, Sarahza si calon jabang bayi digambarkan menjadi sosok serba tahu tentang calon kedua orang tuanya di dunia.

Dengan tiga sudut pandang yang dipakai penulis, cerita jadi teramat jelas. Ibarat thai tea, kurang sepet. huehe. Tapi dengan begitu, buatku buku ini jadi lebih gampang diikuti alurnya, gampang direnungi pesan-pesannya, dan mudah dicerna diksinya. Sekali lagi, mungkin karena ini adalah novel yang mereka lahirkan sebagai adopsi kisah nyata yang mereka alami, sepertinya penulis benar-benar pengen cerita ini gamblang. Bukan novel yang dikarang timeline, plot, karakter maupun teka-tekinya dan memberikan pembaca peluang untuk berimajinasi lebih jauh. This is not that kind of book

".....Aku bahkan sudah tak dalam angan menginginkan keturunan. Tak berani berharap lagi. Bahkan berharap untuk bisa berharap lagi. Bukan hamba tak menginginkan. Namun, karena aku telah pasrah, aku tak ingin bersakit hati lagi. Pasrah adalah senjataku yang tersisa. Aku tak ingin berharap dan kemudian kecewa. Aku takut menjadi hamba yang kecewa lalu merutuki nasib..."

Buku ini bagus sebagai penguat iman, pemupuk harapan, sebagai nasihat-nasihat bijak yang mungkin memang Allah titipkan lewat Hanum dan Rangga untuk disampaikan secara estafet kepada hamba-hamba-Nya yang sedang sama-sama berjuang seperti mereka. :’)


  • Share:

You Might Also Like

0 comments