Selera Baca

By dewi kustati - March 30, 2019

Aku punya keyakinan bahwa baca itu selera. Orang yang sama-sama suka membaca belum tentu punya selera yang sama dalam bacaannya. Setiap berkunjung ke toko buku ada rak-rak tertentu yang bakal aku tongkrongin dan ada rak-rak lain yang cuma sekadar dilihat dari kejauhan. 

Setelah sekian lama nggak belanja buku karena tahun lalu aku sibuk (((sibuk))) merampungkan kuliah, beberapa hari kemarin akhirnya bisa jalan-jalan ke Gramedia Merdeka yang sekarang sudah banyak berubah. Buku-buku yang dipajang pun banyak berubahnya, mencerminkan pengaruh budaya atau bahkan -di tahun politik kayak gini nih- afiliasi politik si empunya toko buku. He he he. 

Dan inilah salah satu sisi buruk dari membaca: belanja buku. Buku itu datang dari penerbit yang juga dunia industri, mereka menciptakan sesuatu untuk mendapatkan uang. Meskipun sadar kalo belanja buku di situs semacam bukabuku.com itu lebih murah karena banyak diskon, tapi egoku maju di barisan paling depan menghadirkan kepuasan batin sebagai tameng bahwa memegang buku, membawanya ke kasir lalu menentengnya pulang mempunyai efek psikologis yang luar biasa untuk meningkatkan mood. Mamam tuh ego.

Salah satu upaya untuk meredam kebiasaan buruk belanja buku adalah dengan meminjam buku. Beruntung karena di kantor ada perpustakaan. Kurang beruntung, karena nggak semua buku-buku di perpustakaan kantor sesuai selera. I judge a book by its writer, publisher, and cover. Kebiasaan menjudge ini bisa membatasi buku bacaan karena akan terfilter secara otomatis untuk nggak dibaca. Dan tahun ini aku belajar untuk mengontrol egoku lebih banyak: melonggarkan idealisme membaca. Misalnya nih, aku pernah mendikte kalo aku nggak selera sama bukunya Tere Liye. Padahal, setelah nyobain minjem di perpus, ada buku-buku Tere Liye yang berhasil dibaca sampe beres, karena memang bukunya bagus. 

Sadar buku terjemahan itu nggak semuanya bisa tersampaikan sebagus buku dengan bahasa aslinya, makanya jadi pilih-pilih banget untuk baca buku terjemahan. Beberapa penerbit punya hasil terjemahan yang bagus, yang mudah dipahami, dan maknanya tetap sejalan. Entah mungkin karena mereka punya standar tertentu atau mungkin juga penerjemah mereka memang berkualitas. Tapi kemudian aku memberanikan diri untuk baca buku terjemahan hasil minjem di perpustakaan. Meskipun bukan berasal dari penerbit yang cukup terkenal,  ternyata, To Kill a Mockingbird tetep lucu dan mudah dipahami jalan ceritanya.

Dari sekian banyak faktor, sampul buku adalah perkenalan pertama buku dengan calon pembaca. Dengan pembungkus plastik yang rapat, calon pembaca dibebaskan menebak isi buku sejauh jangkauan imajinasinya bermodalkan judul dan sampul. Sampul buku adalah sesuatu yang sepertinya secara berkala diperbarui. Nggak sedikit buku-buku lama yang dicetak ulang dengan sampul baru. Di zaman seperti sekarang bukan hal sulit untuk mendesain dan mencetak ulang sampul buku, apalagi demi mendapatkan pelanggan lebih banyak, dan disadari atau nggak sampul-sampul baru ini memang mencuri perhatian, senggaknya untuk mendapatkan lirikan pertama. 

Tapi sebagus apapun sampul, kalo ternyata malah melambungkan ekspektasi calon pembaca yang kemudian kecewa padahal baru baca halaman pertama, buku itu hanya akan berakhir di rak atau masuk dalam shelf give-up-on” di goodreads disertai sebongkah kedongkolan di sela-sela jantung dan paru-paru.

Seperti waktu aku nemu bukunya Habiburrahman El Shirazy di perpustakaan, dengan sampul warna merah muda bergambar setangkai bunga mawar putih. Bukannya mencoba menebak isi buku, aku mengkhayalkan kalo ini judulnya diganti “Sukses Bercocok Tanam Bunga” masih tetep nyambung. Dan demi mengalahkan ego, kubawa buku bergambar bunga mawar putih itu untuk dipinjam. Seorang Habiburrahman El Shirazy mungkin udah nggak peduli dengan sampul karena ketenaran dirinya udah melampaui segalanya -penulis buku-buku bestseller yang sukses diangkat ke layar lebar-. Mungkin gitu kalo orang udah yakin betul sama “isinya” dia nggak ambil pusing sama sampulnya. Semoga cetakan selanjutnya buku ini udah pakai sampul baru yang semoga juga bukan sampul film adaptasinya. Tolong. Hentikan. Mencetak. Buku. Dengan. Sampul. Film.

Setiap buku membawa pesan-pesan yang hanya diterima oleh pembacanya sesuai kebutuhannya. Ada ikatan kosmik diantara keduanya, ketika menemukan bukunya dan ketika memaknai pesan yang disampaikannya. Buku, selain media anti-sosial paling ampuh, juga media untuk berkomunikasi paling menarik. Setiap kali melihat orang membaca buku –terutama buku yang pernah kita baca- adalah seperti sebuah buku merekomendasikan seseorang. Cie cie.

Nggak semua buku bagus adalah kombinasi dari penulis yang udah punya nama, penerbit yang bagus dan sampul yang outstanding. Beberapa adalah milik penulis baru dengan sampul bagus dan penerbit yang terkenal, beberapa mungkin penulis bestseller dengan penerbit keren dan sampul biasa-biasa saja. Tapi nggak ada buku bagus dengan sampul yang luar biasa keren tapi isinya kosong, kecuali itu buku gambar atau buku catatan. Dan pada akhirnya selera baca itu terbentuk dari isinya.

Mengutip tulisan Aan Mansyur: “Belilah buku-buku bagus, tapi jangan semata demi kepentingan sendiri -dan jangan untuk tujuan supaya anda bisa tampak lebih berbudaya daripada orang lain. Buku, seperti barang-barang lain, bisa tampil sebagai simbol-simbol semu kelas tertentu. Buku punya kekuatan menjadi benteng tebal yang akan memisahkan anda dari orang lain“

  • Share:

You Might Also Like

0 comments