Whispering "I love my job, I love my job, I love my job..."

By dewi kustati - July 04, 2019



*Cerita ini diambil dari dunia paralel di planet Bumi 50-L4M3. 

Dulu pernah punya temen sesama PNS yang memutuskan untuk resign. Entah apa alasan utama yang diyakininya dengan ngelakuin hal se(((gila))) itu. Buat aku yang masih butuh duit gini, ehe, resign dari PNS adalah hal yang patut untuk dikasihani diapresiasi setingkat lebih tinggi dari orang yang berani naik histeria tanpa memasang pengaman, misalnya.

Tapi, dari kabar burung yang kemudian beredar –karena resign dari PNS ini bukan hal yang main-main- doi dipanggil sama pimpinan kantor, dan dia beneran bilang “kantor ini udah ngga bener, Pak”.

Ya lumrah sih, wong dia kan secara sadar mengundurkan diri, mau hengkang dari kantor yang menurutnya udah ngga beres itu. Kalo mau dia harusnya bisa sekalian ngomong hal-hal lebih gila lainnya (yang mendukung argumennya tentang istilah kantor ngga bener) semisal “saya ngga suka sama si ini, karena hobinya komen ini itu ngga jelas, ngobrolin hal-hal nggak relevan, sukanya nyinyirin semua tingkah orang di sekelilingnya tanpa tau apa itu empati, bikin muak pak, tolong orang kaya gitu dileburkan saja pake larutan asam atau dimusnahkan kayak aktivis 98”, misalnya. (Lah kamu ini lagi nyinyir juga. Hahaha)

Tiap tahun jutaan manusia Indonesia berebut kursi itu atas nama rasa aman dan hari tua. Rasa aman karena kelak hari-harinya ngga perlu lagi diliputi kebimbangan bisa makan apa nggak besok. Rasa aman atas NIP yang serupa barcode ditato di jidat ketika sedang tuku jangan di bakul sayur. “oh iya si itu kan udah PNS ya”. 


"Udah" adalah kata yang cukup sering disematkan seolah-olah semua orang tujuannya adalah menjadi PNS. We were born to be PNS. Wkwkwk.

Naik setingkat lebih tinggi dari aman, adalah bahagia.  Aku iri sama temenku yang berani resign itu, karena aman bukan hal yang menurutnya layak dipertahankan demi menderita secara batin. Hiks. 


Mungkin sebagai fresh graduate waktu itu, aku mengalami sindrom kecemasan belum diterima kerja. Jadi, sini lah kerja apa aja asal aku punya kesibukan, kwkwkwk. Btw, ngupil juga kesibukan, lho. Mungkin waktu itu, kupikir bahagia adalah kalo jadi PNS. Sesat. Yang betul adalah orang-orang nyawang yang jadi PNS itu bahagia.

I wish i had that courage untuk ngomong “pak, bu, saya kok rasanya pengen pindah dari sini ya, anu, gini, orang-orangnya kayak kebanyakan orang ENDONESIA gitu pak, bu, banyak nyinyirnya, banyak komen ini itu kayak komentator sepak bola, saya lebih suka orang yang diem, ngomong seperlunya, hahaha, nggak juga sih, saya sukanya orang yang jokesnya dark gitu, banyak sarkas, tapi kerjanya nggak pamrih, nggak nunggu ada iming-iming honor, bukan orang yang tiap hari pengennya beli barang-barang bermerek demi pengakuan, terus kalo temennya seleranya murahan (misal pake pensil alis viva) nggak sekelas dianya nggak julid, bukan orang yang selalu komen hal-hal yang nggak sesuai sama cara pikirnya”. Haaaaah.

Tapi ya, ini kan ENDONESIA. Tempat dimana ada hal bernama ewuh pekewuh, semacam beban tak kasat mata dalam semua lapisan sosial. Nggak keliatan tapi kerasa beban kalo ada yang berbenturan. Terlebih lagi di ENDONESIA ini orangnya kebanyakan argumen subjektif, hahaha, banyak kesimpulan yang diambil dari informasi yang secuil-secuil. Tidak banyak orang bisa cukup berempati terhadap pilihan yang diambil orang lain sekalipun itu nggak masuk akal baginya. Alih-alih menghormati pilihan orang, kebanyakan mereka lebih sering judgemental tentang banyak hal yang menurut mereka nggak sesuai sama nalarnya. Tanpa mau mengerti bahwa yang dilewati orang lain sama sekali berbeda dengan apa yang selama ini mereka hadapi. Tanpa mau paham bahwa ocehannya kadang nggak perlu diucapkan dan cukup diengken di lambungnya untuk kemudian jadi kentut aja. 

Tapi aku yang cinta alam dan kasih sayang sesama manusia disuruh ibuku untuk sabar dan bersyukur ini harusnya lebih berempati terhadap orang-orang yang tidak punya empati. Karena orang yang paling butuh diempatisasi(?) adalah orang yang nggak bisa berempati. Lah iya kan, orang nggak bisa berempati itu mungkin simpul saraf otaknya nggak terlalu rumit, karena baginya cuma ada satu saklar yang hanya memungkinkan dua kondisi. Nggak ada percabangan yang membuka peluang-peluang lain bahwa mungkin orang lain begitu karena hal-hal yang nggak aku tau dan belum pernah aku alami maka itu bukan wewenangku buat komentarin hidupnya dan oleh karena itu  baiknya aku hormati pilihannya.

NAMASTE

  • Share:

You Might Also Like

2 comments